Skip to main content

Posts

Showing posts from 2020

DIMSUM KREATIF

DIMSUM KREATIF Ini bukan sembarang dimsum. Dimsum ini adalah lambang kreativitas, inovasi, dan keberanian. Lebih senangnya hati saya, dimsum ini terlahir dari kreativitas anak saya yang kedua: Anjali Diva Ahyana, tamat SMA, mau kuliah. Pandemi Covid-19 mengharuskan setiap orang bekerja dan belajar dari rumah. Anjali Diva, juga sama. Harus belajar dari rumah.  Hampir 3 bulan belajar di rumah. Mesti ada sesuatu untuk mengusir kebosanan. Bukan hanya mengusir kebosanan, tetapi juga bisa menghasilkan. Produktif.  Anak milenial. Kita orang tua tinggal mendukung.  Nontonnya MasterChef Australia. Browsing makanan di YouTube. Passion-nya memang makanan.  Jurusan kuliah yang dipilih juga tidak jauh-jauh dari makanan. Gizi UI dan Teknologi Pangan IPB. Mohon doanya ya biar lulus SBMPTN atau apalah namanya sekarang yang terus berganti-ganti.  Akhir Ramadan eksperimen Dimsum dimulai. Pertama, gagal. Pakai dada ayam fillet. Ternyata keras. Ganti paha ayam fillet. B...

MENGAPA SAYA HARUS BISA MENULIS

Bagi saya, menulis itu bagian tidak terpisahkan dari kehidupan. Di dalam darah saya mengalir Akbar "menulis" Zainudin. Mendarah daging.  Melalui tulisan, banyak sekali keajaiban-keajaiban hidup yang sudah saya rasakan. Betapa energi positif dari menulis menarik alam semesta untuk juga memberikan hal-hal positif kepada saya.  Mengapa saya harus menulis? Pertama, karena menulis adalah cara saya bisa berbagi dan bermanfaat bagi orang lain. Kebahagiaan terbesar saya adalah saat orang membaca tulisan saya, baik dalam bentuk artikel maupun buku, lalu mereka bilang, "Terima kasih Pak Akbar, tulisan Bapak seperti menampar-nampar saya. Betapa saya selama ini masih banyak menyia-nyiakan hidup untuk hal-hal yang tidak berguna. Setelah membaca buku Bapak, saya berjanji akan lebih berkomitmen untuk berbuat baik dan menjadikan hidup saya lebih produktif". Sungguh, saya tidak bisa berkata-kata. Speechless . Bahagia sekali rasanya bisa bermanfaat bagi orang banyak.  Kedua, menulis ...

LINGKARAN KENDALI

Dalam situasi mengisolasi diri dengan lebih banyak bekerja dan berakativitas di rumah sekarang ini, saya jadi teringat dengan apa yang disebut oleh Stephen Covey sebagai “Lingkaran Kendali”. Ada lingkaran yang bisa kita kendalikan, dan ada juga lingkaran yang tidak bisa kita kendalikan. Jangan sampai salah fokus. Fokuslah pada apa yang bisa kita kendalikan. Contoh kasus paling mudah; COVID-19 yang sudah ditetapkan WHO sebagai pandemi global. Banyak negara melakukan lockdown. Indonesia sendiri belum melakukan kebijakan ini, namun banyak pemerintah daerah “meliburkan sekolah” hingga 14 hari, memberlakukan kebijakan “Bekerja dari Rumah – Work from Home (WfH), dan sebagainya. Situasi menjadi rumit karena penyebaran virus COVID-19 yang sangat cepat. Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Ini yang harus menjadi pertanyaan semua orang karena hidup harus terus berjalan. Situasi jauh lebih sulit, tetapi kita tidak boleh hanya mengeluh, pasrah, atau bahkan mengumpat. Hal-hal itu tidak akan perna...

MEMPRAKTIKKAN “BAROKATOLOGI” ALA GONTOR DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI.

Istilah "BAROKATOLOGI" sering diungkapkan K.H. Hasan Abdullah Sahal, pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Ilmu Keberkahan. Pesantren memang penuh dengan keberkahan. Karena itulah kita sering mendengar istilah "ngalap (mencari, mengambil) berkah dari pondok, ngalap berkah dari Kiai. Keberkahan itu dalam berbagai istilah sering disebut sebagai "ziyadatul khair", pertambahan kebaikan. Satu kebaikan karena keberkahan yang ditimbulkan akhirnya menambah kebaikan-kebaikan lain, bahkan sering yang tidak terduga-duga. Keberkahan hidup memang istilah yang tidak mudah dipahami, karena seringkali di luar batas nalar manusia. Logika yang digunakan bukan lagi logika manusia, tetapi ada kepercayaan penuh bahwa Allah akan selalu ikut bersama setiap apapun yang kita lakukan. Banyak contoh keberkahan hidup. Ada santri yang tugasnya setiap hari menjadi sekretaris Kiai. Tugasnya menyeluruh; membuat jadwal, mengatur perjalanan, menyiapkan berbagai keperluan Kiai, bahkan ...