Skip to main content

LINGKARAN KENDALI

Dalam situasi mengisolasi diri dengan lebih banyak bekerja dan berakativitas di rumah sekarang ini, saya jadi teringat dengan apa yang disebut oleh Stephen Covey sebagai “Lingkaran Kendali”. Ada lingkaran yang bisa kita kendalikan, dan ada juga lingkaran yang tidak bisa kita kendalikan. Jangan sampai salah fokus. Fokuslah pada apa yang bisa kita kendalikan.

Contoh kasus paling mudah; COVID-19 yang sudah ditetapkan WHO sebagai pandemi global. Banyak negara melakukan lockdown. Indonesia sendiri belum melakukan kebijakan ini, namun banyak pemerintah daerah “meliburkan sekolah” hingga 14 hari, memberlakukan kebijakan “Bekerja dari Rumah – Work from Home (WfH), dan sebagainya. Situasi menjadi rumit karena penyebaran virus COVID-19 yang sangat cepat.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Ini yang harus menjadi pertanyaan semua orang karena hidup harus terus berjalan. Situasi jauh lebih sulit, tetapi kita tidak boleh hanya mengeluh, pasrah, atau bahkan mengumpat. Hal-hal itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Di sinilah, fokus pada apa yang bisa kita kendalikan menjadi sangat penting.

Biarlah urusan kebijakan untuk lockdown sebuah kota, meliburkan siswa dan mahasiswa, bekerja dari rumah, menjadi urusan para pembuat kebijakan. Kita tidak perlu terlalu banyak membuang energi dengan memperdebatkannya, apalagi sampai “gontok-gontokan”, berkelahi gara-gara membela kebijakan apakah di lockdown atau tidak. Itu semua di luar kendali kita (kecuali kita bekerja di sektor pemerintahan yang terkait). Fokuslah pada apa yang bisa kita kendalikan.

Yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana kita “bekerja dari rumah” dan tetap produktif. Kalau salah fokus, waktu kita akan habis untuk hanya berdebat, atau malah ikut-ikutan mencari bahan untuk saling menyalahkan pihak lain. Akhirnya, waktu terus berjalan dan hilang semua produktivitas kita.

Mudah-mudahan wabah ini cepat berlalu. Kita bisa sabra menghadapinya. Insya Allah, bersama waktu, kita akan mampu menghadapi ini semua.

Tetap waspada. Ikhtiar. Tawakkal. Jangan panik. Jangan meremehkan. Allah bersama kita.

Salam Man Jadda Wajada.


Comments

Popular posts from this blog

Kontes Dangdut Indonesia (KDI)

Ketika saya menulis tentang Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan Indonesian Idol, kawan saya minta saya nulis tentang Kontes Dangdut Indonesia (KDI), sebuah acara yang mirip dengan AFI di Indosiar tetapi mengkhususkan diri pada lagu dangdut dan disiarkan oleh TPI. Saya sejujurnya belum pernah nonton KDI, karena itu, dalam beberapa hari kemarin hampir setiap jam setelah pulang kantor saya usahakan untuk selalu nonton TPI. Dan TPI memang secara gencar menayangkan iklan KDI yang sekarang sudah memasuki tahapan audisi di berbagai kota. Mirip dengan strategi Indosiar, hampir setiap ada spot iklan kosong, diisi dengan iklan KDI. Satu pertanyaan yang menggelitik saya adalah, bagaimana kans kesuksesan acara ini dalam merebut hati pemirsa? Ada dua indikasi kesuksesan acara ini: Pertama, tentu saja rating yang dikeluarkan AC NIELSEN. Dan Kedua, adalah SMS yang masuk bisa seberapa besar. Menariknya, acara-acara dangdut yang selama ini ditayangkan berbagai stasiun Televisi dalam hal rating...

Rumput Tetangga Yang Selalu Lebih Hijau

Minggu kemarin, Plasmedia mengadakan outbound untuk karyawannya. Bertempat di Sela Bintana, Sukabumi. Kegiatan outboundnya dilakukan dalam fasilitas milik Cakrawala outbound. Ada banyak sekali kegiatan dalam dan luar lapangan, yang intinya adalah team building, membangun interaktifitas dan kerjasama antar personil di berbagai departemen. Salah satu yang paling menarik saya adalah ketika tim-tim yang dibagi dalam beberapa kelompok oleh panitia diberikan berbagai barang-barang mulai dari sedotan, kayu ice cream, balon, gunting, kertas, karton, lem, dan lain-lain. Setiap kelompok diminta untuk membuat logo yang mencerminkan visi dan misi kelompok masing-masing. Dalam waktu satu jam, setiap kelompok mulai berpikir keras bagaimana membuat logo-logo tersebut secara baik. Ada kelompok yang membuat kafe, karena di situ ada meja makannya, ada kelompok yang membuat gambar kapal, gambar rumah, dan juga rumah beserta lingkungannya. Yang menang adalah kelompok yang membuat tiga buah tabung d...

Mengemas Ulang Sebuah Merek

Setengah tahun yang lalu saya berkunjung ke kantor Jawa Pos di Jakarta di Graha Pena di daerah Kebayoran. Saya berbincang dengan salah satu staf redaksi Indo Pos yang merupakan salah satu grup koran dari Jawa Pos. Gedung itu juga menjadi kantor bagi harian Rakyat Merdeka dan Lampur merah yang juga masih satu grup. Kita berbincang panjang lebar, terutama mengenai perjalanan Indo Pos dan perkembangannya selama hadir di Jakarta. Ceritanya sudah lama memang grup Jawa Pos menginginkan untuk bisa merambah Jakarta. Karena itu, distribusi Jawa Pos untuk Jakarta memang sudah digencarkan sejak bertahun-tahun yang lalu, dan diterbitkanlah Jasa Pos edisi Jakarta. Namun hasilnya memang tidak begitu memuaskan. Walaupun distribusinya cukup merata, tetapi pertumbuhannya tidak terlalu pesat. Akhirnya, setelah melalui berbagai penelitian, ditemukan bahwa salah satu penyebabnya adalah karena nama Jawa Pos nampaknya tidak terlalu “berkenan” di hati orang Jakarta. Kesannya sebagai Koran daerah menye...