Skip to main content

Membangun Differensiasi

Masih ingat cerita sekitar setahun yang lalu, di kawasan Kelapa Gading Jakarta, di mana orang rela antri untuk membeli roti di toko roti BreadTalk, toko waralaba dari Singapura? Antrian itu begitu panjang dan menjadi bahan cerita dan obrolan di mana-mana.

Mengapa orang mau antri di BreadTalk, padahal proses pembuatan roti di BreadTalk relatif sama dengan pembuatan roti di tempat lain? Salah satu jawabannya adalah karena ada pengalaman berbeda yang dirasakan konsumen saat membeli roti di BreadTalk dibandingkan di tempat lain.

Ketika membeli roti di BreadTalk, kita disuguhkan secara langsung dan transparan bagaimana proses pembuatan roti mulai dari pengolahan terigu hingga roti itu dimasak. Pengalaman itu mungkin terlihat sederhana, tetapi karena disajikan secara langsung, menjadi pengalaman yang mengesankan buat konsumen, dan membuat mereka rela antri.

Contoh lain adalah kedai kopi Starbuck, Coffee Bean, dan berbagai kedai kopi waralaba lain asal Amerika. Konsumen rela mengeluarkan dua puluh hingga tiga puluh ribu hanya untuk membeli secangkir kopi, yang bisa jadi rasanya tidak jauh berbeda dengan membeli kopi di tempat lain. Apa yang membedakan? Jawabannya adalah suasana, di mana tradisi ngopi sudah menjadi gaya hidup untuk tempat pertemuan, ataupun sekedar cuci mata dan “ngeceng”. Dan untuk semua itu, mereka mau membayar beberapa kali lipat lebih besar.

Anda mungkin juga sering mendengar tentang Joger di Bali atau Dagadu di Jogja, dua produsen kaos yang berisi plesetan kata yang sangat terkenal? Berbeda dengan produsen kaos lain yang mengedepankan motif, Joger dan Dagadu sangat mengandalkan kaosnya dari kelucuan dan satire dari kata-kata. Di samping itu, mereka tidak pernah membuat kaos dalam edisi massal yang sangat besar, tetapi selalu dibikin secara terbatas.

Dalam skala yang lebih kecil, di sebuah jalan wilayah Casablanca Jakarta, terdapat kedai soto yang disebut Soto Gebrak. Rasa sotonya tidak jauh berbeda dengan tempat lain, atau bahkan mungkin ada tempat lain yang lebih enak. Tapi pengunjung tempat tersebut akan mendapatkan pengalaman berbeda dengan adanya suara ”gebrak” yang cukup keras yang keluar dari suara botol kecap yang digebrakkan oleh penjual soto ke atas meja saat melayani pelanggan. Atraksi ini cukup unik, tetapi tidak direkomendasikan untuk orang yang jantungan atau suka latah.

Belum cukup? Kurang lebih 500 m dari Soto Gebrak terdapat ”Warteg Marmo”, ini warung tegal seperti yang biasa kita lihat di pinggiran jalan. Tetapi menariknya, jangan harap Anda bisa mendapatkan tempat duduk kalau ke sana pas jam makan karena warteg ini nyaris selalu dipenuhi oleh orang dari berbagai kalangan. Saat saya mencoba makan di sana, rasanya tidak terlalu berbeda dengan warteg yang lain. Yang membedakan adalah bahwa di Warteg Marmo hampir semua masakan terdapat di sana. Untuk sebuah warung tegal yang sangat komplit, Marmo bisa dibilang jagonya. Di sini, konsumen bisa memilih berbagai macam sayuran dan lauk pauknya dengan leluasa, walaupun dari sisi harga lebih mahal di atas rata-rata warteg lain.

Beberapa kasus nyata di atas mempunyai satu benang merah yang sama, kalau kita ingin memenangkan persaingan, dibutuhkan sesuatu yang membuat kita berbeda dan mempunyai nilai tambah lebih di mata konsumen. Dalam istilah ahli pemasaran Philip Kotler, ini yang disebut sebagai differensiasi.

Differensiasi adalah seperangkat perbedaan untuk membedakan apa yang kita tawarkan dengan orang lain. Dengan differensiasi, konsumen mengharapkan satu nilai-nilai dan manfaat tertentu yang ingin mereka dapatkan. Yang mungkin agak sulit adalah, bagaimana kita membuat produk atau jasa kita berbeda, sementara di pasar sudah banyak sekali produk yang serupa?

Philip Kotler menyebut empat hal yang bisa menjadi sumber differensiasi. Pertama adalah produk itu sendiri. Dalam kasus di atas, Warteg Marmo, Joger dan Dagadu adalah contoh baik bagaimana mengemas produk menjadi berbeda. Kedua, adalah layanan ataupun konteks peristiwa. Di sini, Starbuck, BreadTalk, dan Soto Gebrak membuat sebuah konteks dan layanan berbeda di samping pesaing.

Unsur ketiga adalah personel ataupun orang yang melayani konsumen. Untuk kasus Indonesia, personel yang ramah dan membantu bisa jadi menjadi faktor lebih penting dari jasa atau produk itu sendiri. Dan unsur keempat adalah citra, di mana yang dijual adalah kebanggaan menggunakan suatu produk ataupun jasa.

Nah, belajar dari berbagai kasus di atas, sudah saatnya melihat faktor-faktor apa saja yang bisa kita jadikan differensiasi dari produk ataupun jasa yang kita jual. Tanpa differensiasi yang kuat, akan sulit bagi kita untuk bersaing, apalagi jika para pesaing mempunyai posisi yang kuat. Tentu saja, karena differensiasi sangat tergantung dari konsumen yang kita bidik, tidak bisa asal beda. Perbedaan harus dirasakan berguna untuk mereka.


Akbar.zainudin@plasmedia.com

Comments

Popular posts from this blog

Kontes Dangdut Indonesia (KDI)

Ketika saya menulis tentang Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan Indonesian Idol, kawan saya minta saya nulis tentang Kontes Dangdut Indonesia (KDI), sebuah acara yang mirip dengan AFI di Indosiar tetapi mengkhususkan diri pada lagu dangdut dan disiarkan oleh TPI. Saya sejujurnya belum pernah nonton KDI, karena itu, dalam beberapa hari kemarin hampir setiap jam setelah pulang kantor saya usahakan untuk selalu nonton TPI. Dan TPI memang secara gencar menayangkan iklan KDI yang sekarang sudah memasuki tahapan audisi di berbagai kota. Mirip dengan strategi Indosiar, hampir setiap ada spot iklan kosong, diisi dengan iklan KDI. Satu pertanyaan yang menggelitik saya adalah, bagaimana kans kesuksesan acara ini dalam merebut hati pemirsa? Ada dua indikasi kesuksesan acara ini: Pertama, tentu saja rating yang dikeluarkan AC NIELSEN. Dan Kedua, adalah SMS yang masuk bisa seberapa besar. Menariknya, acara-acara dangdut yang selama ini ditayangkan berbagai stasiun Televisi dalam hal rating...

Rumput Tetangga Yang Selalu Lebih Hijau

Minggu kemarin, Plasmedia mengadakan outbound untuk karyawannya. Bertempat di Sela Bintana, Sukabumi. Kegiatan outboundnya dilakukan dalam fasilitas milik Cakrawala outbound. Ada banyak sekali kegiatan dalam dan luar lapangan, yang intinya adalah team building, membangun interaktifitas dan kerjasama antar personil di berbagai departemen. Salah satu yang paling menarik saya adalah ketika tim-tim yang dibagi dalam beberapa kelompok oleh panitia diberikan berbagai barang-barang mulai dari sedotan, kayu ice cream, balon, gunting, kertas, karton, lem, dan lain-lain. Setiap kelompok diminta untuk membuat logo yang mencerminkan visi dan misi kelompok masing-masing. Dalam waktu satu jam, setiap kelompok mulai berpikir keras bagaimana membuat logo-logo tersebut secara baik. Ada kelompok yang membuat kafe, karena di situ ada meja makannya, ada kelompok yang membuat gambar kapal, gambar rumah, dan juga rumah beserta lingkungannya. Yang menang adalah kelompok yang membuat tiga buah tabung d...

Mengemas Ulang Sebuah Merek

Setengah tahun yang lalu saya berkunjung ke kantor Jawa Pos di Jakarta di Graha Pena di daerah Kebayoran. Saya berbincang dengan salah satu staf redaksi Indo Pos yang merupakan salah satu grup koran dari Jawa Pos. Gedung itu juga menjadi kantor bagi harian Rakyat Merdeka dan Lampur merah yang juga masih satu grup. Kita berbincang panjang lebar, terutama mengenai perjalanan Indo Pos dan perkembangannya selama hadir di Jakarta. Ceritanya sudah lama memang grup Jawa Pos menginginkan untuk bisa merambah Jakarta. Karena itu, distribusi Jawa Pos untuk Jakarta memang sudah digencarkan sejak bertahun-tahun yang lalu, dan diterbitkanlah Jasa Pos edisi Jakarta. Namun hasilnya memang tidak begitu memuaskan. Walaupun distribusinya cukup merata, tetapi pertumbuhannya tidak terlalu pesat. Akhirnya, setelah melalui berbagai penelitian, ditemukan bahwa salah satu penyebabnya adalah karena nama Jawa Pos nampaknya tidak terlalu “berkenan” di hati orang Jakarta. Kesannya sebagai Koran daerah menye...