Skip to main content

Mengemas Ulang Sebuah Merek

Setengah tahun yang lalu saya berkunjung ke kantor Jawa Pos di Jakarta di Graha Pena di daerah Kebayoran. Saya berbincang dengan salah satu staf redaksi Indo Pos yang merupakan salah satu grup koran dari Jawa Pos. Gedung itu juga menjadi kantor bagi harian Rakyat Merdeka dan Lampur merah yang juga masih satu grup.

Kita berbincang panjang lebar, terutama mengenai perjalanan Indo Pos dan perkembangannya selama hadir di Jakarta. Ceritanya sudah lama memang grup Jawa Pos menginginkan untuk bisa merambah Jakarta. Karena itu, distribusi Jawa Pos untuk Jakarta memang sudah digencarkan sejak bertahun-tahun yang lalu, dan diterbitkanlah Jasa Pos edisi Jakarta. Namun hasilnya memang tidak begitu memuaskan. Walaupun distribusinya cukup merata, tetapi pertumbuhannya tidak terlalu pesat.

Akhirnya, setelah melalui berbagai penelitian, ditemukan bahwa salah satu penyebabnya adalah karena nama Jawa Pos nampaknya tidak terlalu “berkenan” di hati orang Jakarta. Kesannya sebagai Koran daerah menyebabkannya hanya dikonsumsi orang-orang yang mempunyai keterikatan emosional dengan Jawa Timur.

Karena itu, digantilah nama Jawa Pos menjadi Indo Pos. Menariknya, pergantian nama ini sebenarnya hanya sekedar ganti nama dan logo di depan. Artinya, semua aspek pemberitaan relatif tidak berubah dengan yang ada selama ini di Jawa Pos. Saya sendiri sebenarnya sempat tidak percaya. Tetapi setelah diberitahu koran Jawa Pos edisi hari itu dan Indo Pos, baru saya menyadari bahwa keduanya memang sama, hanya beda di nama korannya. Perbedaan hanya terletak pada rubrik metropolitan yang memang mengkhususkan diri pada berita-berita di Jakarta.

Hebatnya, pergantian merek ini ternyata membawa hasil yang sangat positif. Enam bulan setelah pergantian nama, oplah Indo Pos merangkak naik menuju 80.000 eksemplar setiap hari, sebuah pencapaian yang luar biasa untuk sebuah ‘koran baru’. Padahal, pada saat menyandang nama Jawa Pos edisi Jakarta, oplahnya tidak bisa mencapai sebesar itu.

Kondisi yang sama tetapi agak berbeda sebenarnya terjadi juga pada harian Rakyat Merdeka. Harian Rakyat Merdeka menjadi semacam ‘metamorfosis’ dari harian Merdeka edisi baru. Dulu, harian Merdeka lebih banyak dikenal sebagai harian Angkatan Bersenjata. Masuknya manajemen Jawa Pos membuat harian Merdeka berubah menjadi harian politik yang lugas, tegas, dan ceplas-ceplos tanpa tedeng aling-aling, sebuah gaya khas terjemahan dari ‘suroboyoan’ Jawa Pos. Hasilnya cukup menggembirakan, walaupun karena perbedaan visi, akhirnya Jawa Pos mundur dari harian Merdeka dan mendirikan sendiri Rakyat Merdeka dengan gaya yang kurang lebih sama.

Dua kasus ini menunjukkan dua hal berbeda untuk sebuah merek. Kasus pertama menunjukkan pentingnya pemilihan merek yang sesuai dengan target market. Pergantian merek dari Jawa Pos edisi Jakarta menjadi Indo Pos mendapatkan apresiasi positif walaupun content dan kualitas produknya sama. Sementara kasus kedua memberi pelajaran tentang pentingya mengemas merek dengan persepsi dan kepribadian baru jika dirasa atribut merek yang lama tidak bisa cocok dengan kepribadian target market yang akan dituju atau dalam rangka membidik target market baru.

Jadi, jika dirasa merek yang kita kembangkan sudah mentok, sudah saatnya memikirkan apakah membuat merek baru, memberi atribut baru untuk pasar yang sama, atau mencari pasar baru untuk merek tersebut.

23 Juni 2004, 06.50

Comments

Popular posts from this blog

Kontes Dangdut Indonesia (KDI)

Ketika saya menulis tentang Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan Indonesian Idol, kawan saya minta saya nulis tentang Kontes Dangdut Indonesia (KDI), sebuah acara yang mirip dengan AFI di Indosiar tetapi mengkhususkan diri pada lagu dangdut dan disiarkan oleh TPI. Saya sejujurnya belum pernah nonton KDI, karena itu, dalam beberapa hari kemarin hampir setiap jam setelah pulang kantor saya usahakan untuk selalu nonton TPI. Dan TPI memang secara gencar menayangkan iklan KDI yang sekarang sudah memasuki tahapan audisi di berbagai kota. Mirip dengan strategi Indosiar, hampir setiap ada spot iklan kosong, diisi dengan iklan KDI. Satu pertanyaan yang menggelitik saya adalah, bagaimana kans kesuksesan acara ini dalam merebut hati pemirsa? Ada dua indikasi kesuksesan acara ini: Pertama, tentu saja rating yang dikeluarkan AC NIELSEN. Dan Kedua, adalah SMS yang masuk bisa seberapa besar. Menariknya, acara-acara dangdut yang selama ini ditayangkan berbagai stasiun Televisi dalam hal rating...

Rumput Tetangga Yang Selalu Lebih Hijau

Minggu kemarin, Plasmedia mengadakan outbound untuk karyawannya. Bertempat di Sela Bintana, Sukabumi. Kegiatan outboundnya dilakukan dalam fasilitas milik Cakrawala outbound. Ada banyak sekali kegiatan dalam dan luar lapangan, yang intinya adalah team building, membangun interaktifitas dan kerjasama antar personil di berbagai departemen. Salah satu yang paling menarik saya adalah ketika tim-tim yang dibagi dalam beberapa kelompok oleh panitia diberikan berbagai barang-barang mulai dari sedotan, kayu ice cream, balon, gunting, kertas, karton, lem, dan lain-lain. Setiap kelompok diminta untuk membuat logo yang mencerminkan visi dan misi kelompok masing-masing. Dalam waktu satu jam, setiap kelompok mulai berpikir keras bagaimana membuat logo-logo tersebut secara baik. Ada kelompok yang membuat kafe, karena di situ ada meja makannya, ada kelompok yang membuat gambar kapal, gambar rumah, dan juga rumah beserta lingkungannya. Yang menang adalah kelompok yang membuat tiga buah tabung d...