Ketika saya menulis tentang Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan Indonesian Idol, kawan saya minta saya nulis tentang Kontes Dangdut Indonesia (KDI), sebuah acara yang mirip dengan AFI di Indosiar tetapi mengkhususkan diri pada lagu dangdut dan disiarkan oleh TPI.
Saya sejujurnya belum pernah nonton KDI, karena itu, dalam beberapa hari kemarin hampir setiap jam setelah pulang kantor saya usahakan untuk selalu nonton TPI. Dan TPI memang secara gencar menayangkan iklan KDI yang sekarang sudah memasuki tahapan audisi di berbagai kota. Mirip dengan strategi Indosiar, hampir setiap ada spot iklan kosong, diisi dengan iklan KDI.
Satu pertanyaan yang menggelitik saya adalah, bagaimana kans kesuksesan acara ini dalam merebut hati pemirsa? Ada dua indikasi kesuksesan acara ini: Pertama, tentu saja rating yang dikeluarkan AC NIELSEN. Dan Kedua, adalah SMS yang masuk bisa seberapa besar.
Menariknya, acara-acara dangdut yang selama ini ditayangkan berbagai stasiun Televisi dalam hal rating mendapatkan angka yang cukup baik. Mulai dari RCTI yang menayangkan Joged, yang mempopulerkan Ratu Joged Liza Nathalia, atau Trans TV dengan Digoda dan hampir seluruh televisi punya andalan untuk acara dangdut.
Fenomena ini menarik, karena musik dangdut adalah musik tradisional yang dimiliki dan disenangi oleh mayoritas rakyat Indonesia, terutama kalangan menengah-bawah. Dan seperti diketahui, kalangan menengah-bawah adalah mayoritas. Dengan penetrasi televisi yang semakin tinggi dan harga-harga televisi yang semakin murah, acara dangdutpun banyak mendapatkan apresiasi.
Tetapi sejatinya, perkembangan gaya bermusik dangdutpun siklusnya tidak bisa bertahan lama, kecuali Rhoma Irama dan Camelia Malik dari Angkatan Lama. Setiap generasi menelurkan gaya tersendiri. Setelah Rhoma, Elvi Sukaesih, dan Camelia Malik yang begitu dominan, musik dangdut sering diidentikkan dengan musik-musik seronok dengan pakaian seksi dan seringkali cenderung norak. Baru muncul kemudian gaya Itje Trisnawati yang dulu dipopulerkan oleh Eddi Sud melalui sebuah acara di TVRI. Nah, generasi lebih muda kemudian menelurkan Iis Dahlia, Evie Tamala, dan Ike Nurjannah. Generasi ini menghasilkan kualitas vokal yang lebih bagus dengan kostum yang lebih rapih. Artinya, mengandalkan kemampuan menyanyi dan hiburan di atas panggung. Pada generasi inilah musik dangdut berhasil naik kelas, dari sekedar musik rakyat kebanyakan, mulai masuk ke hotel-hotel dan pangsa pasar kelas menengah.
Pada sekitar tahun 2002, muncul fenomena Alam, yang menghadirkan dangdut dikombinasikan dengan musik rock. Selama hampir setahun, Alam melejit dan memberi warna tersendiri bagi perkembangan musik dangdut. Paling fenomenal tentu saja adalah kemunculan Inul Daratista, dara pasuruan yang terkenal dengan goyang ngebornya.
Goyang ngebor Inul termasuk memiliki siklus cukup panjang, karena hingga saat ini masih bisa dijual. Gaya dangdutan model Inul ini cukup unik, mengandalkan goyang yang melahirkan berbagai brand sendiri-sendiri. Setelah goyang ngebor, muncul goyang patah-patah, goyang vibrator, goyang kayang, dan lain-lain yang pada intinya mengandalkan gaya tertentu dalam bergoyang.
Nah, ketika model goyang ini mulai masuk pada tahapan siklus penurunan, KDI saya kira muncul pada saat yang tepat untuk mengisi kebosanan pemirsa akan gaya Inul dan kawan-kawan. Tinggal kemudian masalah "product packaging" yang perlu disiapkan dengan baik. Pada akhirnya, dari sisi SMS mungkin sulit mengalahkan AFI karena tingkat pendapatan yang belum memadai, tapi dari sisi audience share dan rating pemirsa televisi, KDI akan mendapatkan rating cukup tinggi.
Saya sejujurnya belum pernah nonton KDI, karena itu, dalam beberapa hari kemarin hampir setiap jam setelah pulang kantor saya usahakan untuk selalu nonton TPI. Dan TPI memang secara gencar menayangkan iklan KDI yang sekarang sudah memasuki tahapan audisi di berbagai kota. Mirip dengan strategi Indosiar, hampir setiap ada spot iklan kosong, diisi dengan iklan KDI.
Satu pertanyaan yang menggelitik saya adalah, bagaimana kans kesuksesan acara ini dalam merebut hati pemirsa? Ada dua indikasi kesuksesan acara ini: Pertama, tentu saja rating yang dikeluarkan AC NIELSEN. Dan Kedua, adalah SMS yang masuk bisa seberapa besar.
Menariknya, acara-acara dangdut yang selama ini ditayangkan berbagai stasiun Televisi dalam hal rating mendapatkan angka yang cukup baik. Mulai dari RCTI yang menayangkan Joged, yang mempopulerkan Ratu Joged Liza Nathalia, atau Trans TV dengan Digoda dan hampir seluruh televisi punya andalan untuk acara dangdut.
Fenomena ini menarik, karena musik dangdut adalah musik tradisional yang dimiliki dan disenangi oleh mayoritas rakyat Indonesia, terutama kalangan menengah-bawah. Dan seperti diketahui, kalangan menengah-bawah adalah mayoritas. Dengan penetrasi televisi yang semakin tinggi dan harga-harga televisi yang semakin murah, acara dangdutpun banyak mendapatkan apresiasi.
Tetapi sejatinya, perkembangan gaya bermusik dangdutpun siklusnya tidak bisa bertahan lama, kecuali Rhoma Irama dan Camelia Malik dari Angkatan Lama. Setiap generasi menelurkan gaya tersendiri. Setelah Rhoma, Elvi Sukaesih, dan Camelia Malik yang begitu dominan, musik dangdut sering diidentikkan dengan musik-musik seronok dengan pakaian seksi dan seringkali cenderung norak. Baru muncul kemudian gaya Itje Trisnawati yang dulu dipopulerkan oleh Eddi Sud melalui sebuah acara di TVRI. Nah, generasi lebih muda kemudian menelurkan Iis Dahlia, Evie Tamala, dan Ike Nurjannah. Generasi ini menghasilkan kualitas vokal yang lebih bagus dengan kostum yang lebih rapih. Artinya, mengandalkan kemampuan menyanyi dan hiburan di atas panggung. Pada generasi inilah musik dangdut berhasil naik kelas, dari sekedar musik rakyat kebanyakan, mulai masuk ke hotel-hotel dan pangsa pasar kelas menengah.
Pada sekitar tahun 2002, muncul fenomena Alam, yang menghadirkan dangdut dikombinasikan dengan musik rock. Selama hampir setahun, Alam melejit dan memberi warna tersendiri bagi perkembangan musik dangdut. Paling fenomenal tentu saja adalah kemunculan Inul Daratista, dara pasuruan yang terkenal dengan goyang ngebornya.
Goyang ngebor Inul termasuk memiliki siklus cukup panjang, karena hingga saat ini masih bisa dijual. Gaya dangdutan model Inul ini cukup unik, mengandalkan goyang yang melahirkan berbagai brand sendiri-sendiri. Setelah goyang ngebor, muncul goyang patah-patah, goyang vibrator, goyang kayang, dan lain-lain yang pada intinya mengandalkan gaya tertentu dalam bergoyang.
Nah, ketika model goyang ini mulai masuk pada tahapan siklus penurunan, KDI saya kira muncul pada saat yang tepat untuk mengisi kebosanan pemirsa akan gaya Inul dan kawan-kawan. Tinggal kemudian masalah "product packaging" yang perlu disiapkan dengan baik. Pada akhirnya, dari sisi SMS mungkin sulit mengalahkan AFI karena tingkat pendapatan yang belum memadai, tapi dari sisi audience share dan rating pemirsa televisi, KDI akan mendapatkan rating cukup tinggi.
Comments