Skip to main content

Ketika Semua Terus Berubah....

Lewat pemilihan umum yang demokratis, bangsa Indonesia akhirnya memiliki presiden yang pertama kali dipilih secara langsung oleh rakyat. Sesuai dengan tema yang didengungkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sang presiden terpilih, kini, perubahan telah tiba.

Sebenarnya, euforia perubahan ini kurang lebih mirip dengan suasana tahun 1998, pada saat Amien Rais, mahasiswa dan berbagai kalangan mendengungkan reformasi untuk mengubah kepemimpinan nasional era orde baru ke era reformasi. Enam tahun era reformasi berjalan, nampaknya rakyat Indonesia menginginkan lagi perubahan lebih lanjut karena dirasa harapan mereka belum terpenuhi.

Belajar dari berbagai pengalaman di atas, pada dasarnya segala sesuatu di dunia ini terus berjalan dan berubah. Dan secara umum, perubahan mengambil dua bentuk utama: perubahan secara gradual, terarah, dan cenderung lama, di sisi lain ada juga perubahan yang terjadi secara drastis. Pola perubahan kepemimpinan nasional pada tahun 1998 adalah perubahan yang terjadi secara drastis, sementara pergantian Presiden RI dari Megawati ke SBY pada dasarnya adalah perubahan secara gradual.

Tentu saja, pergantian gerbong kepemimpinan nasional akan banyak sekali berdampak pada perubahan di manajemen pemerintahan secara keseluruhan. Kabinet baru dibentuk, departemen diubah, dan membawa konsekuensi pada staf dan pegawai di departemen tersebut. Ada yang diganti, dimutasi ke tempat lain, dinaikkan pangkatnya, dan tentu saja ada yang tidak lagi dipakai. Perubahan itu juga akan berdampak pada kehidupan rakyat Indonesia secara keseluruhan. Di sini, pentingnya kita memahami situasi dan menyiapkan mental, agar ketika perubahan itu datang, baik secara gradual maupun drastis, kita sudah mempersiapkan dengan baik.

Berhubungan dengan perubahan, sekitar tahun 1998, Spencer Jhonson dan Kenneth H. Blanchard mengarang buku yang sangat terkenal dan menjadi best seller di mana-mana. Judul buku tersebut adalah “Who Moved My Cheese“. Buku ini berisi sebuah cerita yang sangat menarik tentang bagaimana orang bersikap terhadap perubahan.

Buku ini mengambil kiasan tentang dua tikus dan dua kurcaci yang mempunyai keju (cheese) yang cukup banyak yang biasa menjadi makanan mereka sehari-hari. Karena terus dimakan, lama kelamaan keju tersebut habis. Habisnya keju menandakan bahwa sesuatu telah berubah. Namun demikian, keempat tikus dan kurcaci tersebut berbeda-beda dalam bersikap. Ada yang langsung keluar dari sarangnya untuk mencari keju yang baru, ada yang wait and see sambil menunggu apa yang sebenarnya terjadi, dan ada juga yang masih tidak sadar bahwa kejunya sudah habis.

Cerita dalam buku ini menggambarkan, pada saat menghadapi perubahan, pada umumnya sikap orang terbagi menjadi empat. Pertama, segera menyadari perubahan telah datang, kemudian mencoba memetakan kemampuan yang dia miliki, dan segera dia memulai sesuatu yang baru, walaupun sesuatu yang baru ini belum tentu berhasil. Sikap ini menjadikan orang tahan banting dan tidak kaget ketika perubahan itu terjadi. Ia akan terus berusaha mencari sesuatu yang baru, dan tidak terpaku pada masa lampau yang sudah ia lalui.

Sikap kedua adalah sikap yang lebih hati-hati terhadap perubahan. Sikap ini ditunjukkan dengan melakukan berbagai analisis terhadap fakta dan informasi yang ada, kemudian merencanakan langkah apa yang akan dilakukan sesuai dengan analisisnya. Sikap ini adalah sikap yang penuh perhitungan terhadap berbagai resiko yang mungkin terjadi. Jika dibarengi dengan keberanian yang cukup, sikap ini akan menghasilkan langkah-langkah dan keputusan yang lebih terarah. Namun jika tidak diiringi dengan keberanian, orang cenderung terlalu takut dan khawatir terhadap berbagai analisis yang ia bikin, sehingga yang terjadi adalah menunggu dan tidak berani untuk melangkah.

Sikap ketiga yang dialami seseorang saat mengalami perubahan adalah tumbuhnya berbagai macam kekhawatiran dan ketakutan bahwa perubahan itu akan menghancurkan dirinya, dan menghilangkan apa yang selama ini ia dapatkan. Maka iapun tidak berani untuk melangkah dan berharap perubahan itu tidak terjadi. Sampai akhirnya perubahan datang, ia baru menyadari bahwa ia harus berubah kalau tidak ingin digilas zaman. Kesadaran biasanya baru datang setelah perubahan itu terjadi.

Sikap keempat adalah sikap yang menentang perubahan, dan tidak menyadari bahwa keadaan sudah berubah. Orang-orang semacam ini biasanya merasa bahwa apa yang mereka miliki sekarang adalah sesuatu yang diberikan untuk mereka sehingga orang lain tidak berhak untuk mengambilnya. Mereka tidak sadar perubahan telah terjadi, bahkan ketika perubahan itu sudah datang di depan mata mereka.

Keempat sikap ini merupakan gambaran dari sikap kita terhadap perubahan. Biasanya setiap orang mempunyai kombinasi dari keempat sikap tersebut saat menghadapi perubahan. Tinggal bagaimana memainkan keempatnya agar terjadi keseimbangan. Karena bagaimanapun, perubahan aka selalu terjadi, tergantung sikap kita apakah menyadari bahwa semuanya telah berubah, atau masih merasa bahwa segala sesuatu masih berjalan seperti dulu, sampai akhirnya ketika keju (yang bisa berarti kedudukan, kesenangan, pangkat, gaji, dan lain-lain) tiba-tiba tidak ada lagi di depan kita, kita hanya bisa berteriak dan menggerutu: “Siapa yang memindahkan keju saya, mengapa ini terjadi pada saya, ini tidak mungkin terjadi, dll“

Dalam menghadapi perubahan, kita memang memerlukan PERTIMBANGAN dan PEMIKIRAN yang matang, tetapi harus dibarengi dengan KEBERANIAN dan KESIGAPAN dalam bertindak sehingga ketika perubahan itu datang, kita sudah mempersiapkan diri dengan baik.

Comments

Popular posts from this blog

Kontes Dangdut Indonesia (KDI)

Ketika saya menulis tentang Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan Indonesian Idol, kawan saya minta saya nulis tentang Kontes Dangdut Indonesia (KDI), sebuah acara yang mirip dengan AFI di Indosiar tetapi mengkhususkan diri pada lagu dangdut dan disiarkan oleh TPI. Saya sejujurnya belum pernah nonton KDI, karena itu, dalam beberapa hari kemarin hampir setiap jam setelah pulang kantor saya usahakan untuk selalu nonton TPI. Dan TPI memang secara gencar menayangkan iklan KDI yang sekarang sudah memasuki tahapan audisi di berbagai kota. Mirip dengan strategi Indosiar, hampir setiap ada spot iklan kosong, diisi dengan iklan KDI. Satu pertanyaan yang menggelitik saya adalah, bagaimana kans kesuksesan acara ini dalam merebut hati pemirsa? Ada dua indikasi kesuksesan acara ini: Pertama, tentu saja rating yang dikeluarkan AC NIELSEN. Dan Kedua, adalah SMS yang masuk bisa seberapa besar. Menariknya, acara-acara dangdut yang selama ini ditayangkan berbagai stasiun Televisi dalam hal rating...

Rumput Tetangga Yang Selalu Lebih Hijau

Minggu kemarin, Plasmedia mengadakan outbound untuk karyawannya. Bertempat di Sela Bintana, Sukabumi. Kegiatan outboundnya dilakukan dalam fasilitas milik Cakrawala outbound. Ada banyak sekali kegiatan dalam dan luar lapangan, yang intinya adalah team building, membangun interaktifitas dan kerjasama antar personil di berbagai departemen. Salah satu yang paling menarik saya adalah ketika tim-tim yang dibagi dalam beberapa kelompok oleh panitia diberikan berbagai barang-barang mulai dari sedotan, kayu ice cream, balon, gunting, kertas, karton, lem, dan lain-lain. Setiap kelompok diminta untuk membuat logo yang mencerminkan visi dan misi kelompok masing-masing. Dalam waktu satu jam, setiap kelompok mulai berpikir keras bagaimana membuat logo-logo tersebut secara baik. Ada kelompok yang membuat kafe, karena di situ ada meja makannya, ada kelompok yang membuat gambar kapal, gambar rumah, dan juga rumah beserta lingkungannya. Yang menang adalah kelompok yang membuat tiga buah tabung d...

Mengemas Ulang Sebuah Merek

Setengah tahun yang lalu saya berkunjung ke kantor Jawa Pos di Jakarta di Graha Pena di daerah Kebayoran. Saya berbincang dengan salah satu staf redaksi Indo Pos yang merupakan salah satu grup koran dari Jawa Pos. Gedung itu juga menjadi kantor bagi harian Rakyat Merdeka dan Lampur merah yang juga masih satu grup. Kita berbincang panjang lebar, terutama mengenai perjalanan Indo Pos dan perkembangannya selama hadir di Jakarta. Ceritanya sudah lama memang grup Jawa Pos menginginkan untuk bisa merambah Jakarta. Karena itu, distribusi Jawa Pos untuk Jakarta memang sudah digencarkan sejak bertahun-tahun yang lalu, dan diterbitkanlah Jasa Pos edisi Jakarta. Namun hasilnya memang tidak begitu memuaskan. Walaupun distribusinya cukup merata, tetapi pertumbuhannya tidak terlalu pesat. Akhirnya, setelah melalui berbagai penelitian, ditemukan bahwa salah satu penyebabnya adalah karena nama Jawa Pos nampaknya tidak terlalu “berkenan” di hati orang Jakarta. Kesannya sebagai Koran daerah menye...