Skip to main content

Ketika iPod Meredefinisi "Walkman"

Pada tahun 1979, Sony menciptakan Walkman, salah satu produk inovatif yang selama 25 tahun terakhir telah terjual lebih dari 330 juta produk termasuk dalam format discman dan minidisc. Sebuah pencapaian yang cukup berarti untuk sebuah produk, dan menunjukkan inovasi yang terus menerus dari Sony untuk memperpanjang daur hidup produknya.

Namun kedigdayaan Sony dalam berinovasi terusik ketika Apple Computer-- perusahaan yang selama ini bergerak dalam bidang manufaktur komputer yang menjadi favorit grafis desainer— pada Oktober 2001 meluncurkan iPod, portable hard-drive digital player yang bisa memainkan lagu dalam format digital.

Revolusi inovasinya jelas, kalau dulu saat orang ingin memainkan lagu, harus membawa kaset ataupun CD, sekarang dengan teknologi kompresi yang lebih baik, “walkman” itu sendiri merupakan hardisk yang membawa ribuan lagu yang bisa dipilih setiap saat. Inovasi ini ternyata diterima dengan baik oleh konsumen, terutama yang sudah mengakrabi musik digital baik melalui komputer maupun PDA. Kalau selama ini mereka mendengarkan musik di komputernya, dengan iPod mereka bisa mendengarkan sambil melakukan berbagai aktifitas.

Dalam hal ini, iPod mampu menawarkan inovasi baru dibandingkan walkman Sony versi lama. Pertama, dari aspek kepraktisan, untuk memutar lagu orang tidak perlu lagi membawa kaset atau CD. Dengan hard-drive yang tertanam dalam iPod, memudahkan orang untuk memutar lagu di mana saja mereka berada.

Kedua, strategi Apple dalam menjual iPod tidaklah konvensional sebagaimana penjualan Hardware komputer seperti biasanya. Secara cerdik, Apple meluncurkan iTunes music store, toko musik online yang menjual sekitar 700.000 lagu dalam bentuk digital. Lagu-lagu tersebut dijual sebesar 99 sen USD, lebih murah dibandingkan membeli lagu dalam bentuk CD. Ditambah lagi, orang tidak perlu membeli satu album penuh, jika yang diinginkan cuma satu atau dua lagu dalam satu album.

Cerdiknya, lagu-lagu yang dijual lewat iTunes hanya bisa dimainkan oleh iPod ataupun Komputer Macintosh yang sama-sama buatan Apple. Strategi ini berhasil membuat iPod berbeda dengan pemutar musik digital lain, dan merupakan salah satu kunci sukses iPod selama ini. Steve Jobs (CEO Apple) sendiri mengatakan bahwa Apple tidak mengambil banyak keuntungan dari iTunes, tetapi keberadaannya memang ditujukan untuk mendongkrak penjualan iPod. Namun demikian, menurut klaim mereka, saat ini iTunes sudah menjual sebanyak 150 juta lagu, sejak didirikan Oktober 2003.

Ketiga, Apple Computer selama ini terkenal sebagai pembuat komputer yang memikirkan desain dan fashion secara detail. Karena itu, iPod diposisikan tidak hanya sebagai pemutar musik digital, tetapi bagian dari gaya hidup modern. Di sini, dibandingkan dengan pemutar MP3 lain, iPod terlihat lebih fashionable.

Pertanyaannya, mengapa Sony terlambat mengantisipasi iPod, bahkan hingga merangsak ke Jepang sendiri, sebagai tuan rumah Walkman? Walaupun agak terlambat Sony pun akhirnya mengumumkan untuk melakukan serangan balik terhadap iPod untuk menunjukkan keunggulan posisinya selama ini sebagai pembuat Walkman.

Sony meluncurkan generasi baru Walkman MP3 untuk membalas iPod, yang menawarkan feature berupa kemampuan menyimpan lagu lebih banyak dengan format kompresi yang berbeda dengan iPod. Sony mengklaim Walkman ini mampu menyimpan hingga 13.000 lagu dibandingkan dengan iPod yang hanya mampu menyimpan 1000 lagu untuk kapasitas harddisk 20 gb. Sony juga mengklaim daya tahan batereinya bisa dimainkan hingga 30 jam, 3 kali lebih lama dibandingkan iPod. Untuk strategi pendukung, Sony juga meluncurkan Sony Connect, toko musik online untuk menandingi iTunes milik Apple.

Mampukah Sony menyerang balik iPod dengan strategi semacam ini? Masih harus kita tunggu, tetapi yang bisa ditarik pelajaran dari kasus ini adalah: Pertama, teknologi telah mengaburkan batas-batas industri. Apakah Apple sekarang masih di industri komputer, atau sudah melintas ke industri hiburan menjadi kabur. Artinya, memetakan persaingan di tahun-tahun mendatang akan semakin sulit ditebak. Pemain baru bisa datang dari berbagai industri yang tidak disangka sebelumnya.

Kedua, inovasi memungkinkan pemain baru mengejutkan pasar dan persaingan dengan produk yang sama sekali baru. Kasus iPod melawan Walkman menunjukkan bahwa walaupun Apple belum berpengalaman di industri musik, inovasi yang ditunjukkannya telah mengubah peta persaingan.

Dan ketiga, walaupun kita di posisi market leader, jangan pernah menganggap enteng pesaing, walau pemain baru sekalipun. Walaupun terlambat, Sony akhirnya memang menyadari bahwa Apple sekarang ini adalah pesaingnya yang paling potensial di industri Walkman yang dulu diciptakannya.....

Comments

M~O said…
iyole, dulu nasi lemak lima puluh sen, dengan menggunakan teknologi terkini nasi lemak yang sama harganye 2 ringgit lebih,itulah kemajuan agaknye

Popular posts from this blog

Kontes Dangdut Indonesia (KDI)

Ketika saya menulis tentang Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan Indonesian Idol, kawan saya minta saya nulis tentang Kontes Dangdut Indonesia (KDI), sebuah acara yang mirip dengan AFI di Indosiar tetapi mengkhususkan diri pada lagu dangdut dan disiarkan oleh TPI. Saya sejujurnya belum pernah nonton KDI, karena itu, dalam beberapa hari kemarin hampir setiap jam setelah pulang kantor saya usahakan untuk selalu nonton TPI. Dan TPI memang secara gencar menayangkan iklan KDI yang sekarang sudah memasuki tahapan audisi di berbagai kota. Mirip dengan strategi Indosiar, hampir setiap ada spot iklan kosong, diisi dengan iklan KDI. Satu pertanyaan yang menggelitik saya adalah, bagaimana kans kesuksesan acara ini dalam merebut hati pemirsa? Ada dua indikasi kesuksesan acara ini: Pertama, tentu saja rating yang dikeluarkan AC NIELSEN. Dan Kedua, adalah SMS yang masuk bisa seberapa besar. Menariknya, acara-acara dangdut yang selama ini ditayangkan berbagai stasiun Televisi dalam hal rating...

Rumput Tetangga Yang Selalu Lebih Hijau

Minggu kemarin, Plasmedia mengadakan outbound untuk karyawannya. Bertempat di Sela Bintana, Sukabumi. Kegiatan outboundnya dilakukan dalam fasilitas milik Cakrawala outbound. Ada banyak sekali kegiatan dalam dan luar lapangan, yang intinya adalah team building, membangun interaktifitas dan kerjasama antar personil di berbagai departemen. Salah satu yang paling menarik saya adalah ketika tim-tim yang dibagi dalam beberapa kelompok oleh panitia diberikan berbagai barang-barang mulai dari sedotan, kayu ice cream, balon, gunting, kertas, karton, lem, dan lain-lain. Setiap kelompok diminta untuk membuat logo yang mencerminkan visi dan misi kelompok masing-masing. Dalam waktu satu jam, setiap kelompok mulai berpikir keras bagaimana membuat logo-logo tersebut secara baik. Ada kelompok yang membuat kafe, karena di situ ada meja makannya, ada kelompok yang membuat gambar kapal, gambar rumah, dan juga rumah beserta lingkungannya. Yang menang adalah kelompok yang membuat tiga buah tabung d...

Mengemas Ulang Sebuah Merek

Setengah tahun yang lalu saya berkunjung ke kantor Jawa Pos di Jakarta di Graha Pena di daerah Kebayoran. Saya berbincang dengan salah satu staf redaksi Indo Pos yang merupakan salah satu grup koran dari Jawa Pos. Gedung itu juga menjadi kantor bagi harian Rakyat Merdeka dan Lampur merah yang juga masih satu grup. Kita berbincang panjang lebar, terutama mengenai perjalanan Indo Pos dan perkembangannya selama hadir di Jakarta. Ceritanya sudah lama memang grup Jawa Pos menginginkan untuk bisa merambah Jakarta. Karena itu, distribusi Jawa Pos untuk Jakarta memang sudah digencarkan sejak bertahun-tahun yang lalu, dan diterbitkanlah Jasa Pos edisi Jakarta. Namun hasilnya memang tidak begitu memuaskan. Walaupun distribusinya cukup merata, tetapi pertumbuhannya tidak terlalu pesat. Akhirnya, setelah melalui berbagai penelitian, ditemukan bahwa salah satu penyebabnya adalah karena nama Jawa Pos nampaknya tidak terlalu “berkenan” di hati orang Jakarta. Kesannya sebagai Koran daerah menye...