Skip to main content

Budaya Browsing dan Desain Koran

Sejak Kompas berubah layout dan desain akhir Juni 2005, rasanya sekarang ini membaca Kompas menjadi semakin menyenangkan, tanpa kehilangan ciri khasnya yang padat dan berisi. Layout yang warna-warni membuat kegiatan membaca menjadi lebih bergairah, sedangkan navigasi yang rapi memudahkan memilih bagian dan segmen mana yang ingin dibaca.

Perubahan yang dilakukan Kompas memang tidak sekedar mengubah layout, tetapi secara substansial perubahan itu menyangkut strategi redaksi secara keseluruhan. Salah satu yang menarik saya dari perubahan itu adalah apa yang disampaikan oleh konsultan Kompas, yang juga telah mengubah ratusan koran dan majalah di seluruh dunia, bahwa pola perubahan layout Kompas sangat dipengaruhi oleh perkembangan budaya ”browsing” di internet.

Sebenarnya, bagaimana sih budaya ”browsing” di internet? Apa bedanya membaca koran secara tradisional? Budaya browsing adalah budaya di mana media bacaan bukan lagi kertas yang dicetak dalam bentuk koran maupun majalah, tetapi media bacaannya berbentuk layar komputer.

Salah satu perbedaan utama adalah lebar layar (screen) yang terbatas membuat para ahli teknologi informasi berupaya keras menjadikan antarmuka (interface) dengan komputer menjadi lebih menyenangkan. Pengaruh besar yang dikontribusikan oleh budaya browsing di antaranya adalah:

Pertama, karena lebar layar yang terbatas, dibutuhkan navigasi yang mudah dimengerti oleh pembaca. Navigasi adalah alat untuk memetakan keseluruhan isi dari sebuah situs web, sehingga memudahkan pembaca untuk memilih bahan bacaan sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya. Kemudahan navigasi ini mutlak diperlukan agar orang tidak tersesat ketika melakukan penjelajahan di dalam sebuah situs.

Kedua, terkait dengan navigasi di atas, setiap informasi biasanya dikelompokkan dalam segmen-segmen tertentu sehingga memudahkan pembaca untuk memilah sesuai segmen yang dibutuhkan. Kalau kita lihat di Kompas Cyber Media (KCM) misalnya mengelompokkan menjadi berbagai rubrik mulai dari ”hiburan, kesehatan, metropolitan, makan dan plesiran, nasional, olah raga”, dan lain-lain. Sedangkan Detikcom membaginya juga dengan berbagai segmen yang semuanya diawali dengan Detik, seperti Detiknews, Detik-Inet, dan Detiksport, dan lain-lain. Pembagian segmen ini memudahkan pembaca untuk menjelajah sesuai segmen yang dibutuhkan.

Ketiga, keterbatasan layar juga membuat informasi tidak bisa dibiarkan terlalu banyak, karena harus berbagi tempat dengan informasi lain. Dalam hal ini informasi yang akan diberikan dibuat singkat tetapi tetap padat dan berisi. Dan tentu saja, membuat informasi menjadi singkat, padat dan berisi bukanlah pekerjaan mudah. Dibutuhkan kejelian mengolah informasi dan pola penulisan yang berbeda dengan tulisan di media cetak.

Keempat, dengan banyaknya informasi yang ingin ditampilkan, maka setiap informasi dituntut untuk tampil memikat, baik dari sisi warna ataupun visual. Karena itu, penggunaan berbagai warna yang menarik, gambar, dan berbagai animasi sangat sering kita jumpai di internet.

Kelima, untuk menyiasati informasi yang terlalu dangkal, setiap berita biasanya ditambahkan ”links” untuk berita yang lebih dalam mengenai satu topik tertentu. Dengan demikian, pembaca yang menginginkan kedalaman informasi bisa mengklik link tersebut untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam.

Nah, dalam beberapa tahun terakhir, pola membaca dengan menjelajah ”browsing” ini sebenarnya mulai diadopsi oleh koran-koran nasional dan daerah. Gelombang itu dimulai dengan pembagian segmen di hampir semua koran yang terbit menjadi beberapa bagian.

Hal itu kemudian berlanjut dari sisi redaksional dengan pola pemuatan berita yang cenderung lebih ringkas dan padat. Menurut pengamatan penulis, Jawa Pos sudah memulai terlebih dahulu pola pemberitaan semacam ini, yang ditularkan ke seluruh grupnya melalui berbagai Koran Radar. Koran Tempo kemudian juga mengadopsi berita singkat dan padat ini, terutama setelah berganti layout menjadi kecil semacam tabloid. Dan tentu saja, pada akhir Juni lalu, Kompas menjadikan momentum 40 tahun kelahirannya berubah dari sisi layout dan redaksional.

Sangat menarik kalau melihat Kompas baru, di mana unsur permainan warna menjadi sangat menonjol. Hal ini untuk menandai berbagai informasi penting yang ingin dilihat pembaca. Ditambah lagi, antara judul, dan sub judul semuanya mempunyai font dan warna yang sama, sehingga memudahkan orang untuk mengenalinya.

Kompas ingin membidik tiga segmen utama pembaca koran ini, yaitu pembaca cepat, pembaca sekilas, dan pembaca mendalam. Pembaca cepat adalah orang-orang yang cukup hanya mengetahui judul-judul dan headline berita hari itu. Sementara pembaca sekilas, hanya ingin mengetahui sedikit berita utama, sedangkan pembaca mendalam adalah yang ingin membaca secara mendalam dengan informasi yang luas.

Perubahan ini tentu saja membuat redaksional juga berubah. Beberapa komponen berita --menurut istilah Kompas—bukan dipotong, tetapi dijadikan lebih padat dan ringkas. Sementara di bagian depan terdapat judul dan kilasan berita sebagian seperti yang sering kita lihat kalau sedang menjelajah di KCM ataupun Detikcom.

Perubahan layout ini, seperti juga diakui Kompas, merupakan pilihan yang sulit dan dilematis. Di satu sisi, perubahan ini akan membuat pembaca Kompas lama yang setia menjadi ”asing”, sementara perubahan ini dibutuhkan untuk mengakomodir generasi baru yang lebih akrab dengan budaya browsing.

Dilema ini sebenarnya juga bukan monopoli Kompas dan surat kabar lain semata, grup musik juga mengalami hal serupa, apakah akan mempertahankan konsumen lama yang sudah setia, dengan resiko pertumbuhan yang lambat, bahkan lama kelamaan akan habis, ataupun mencoba menangkap pasar potensial baru, dengan resiko kehilangan pelanggan lama.

Satu hal yang bisa dipelajari dari sini, perubahan adalah sebuah keniscayaan. Menyadari bahwa lingkungan kita berubah, menuntut kita mengikuti perubahan tersebut, atau kita yang akan digilas perubahan. Sebagai market leader, nampaknya Kompas secara serius menanggapi perubahan ini, sekaligus menangkap berbagai peluang baru, sebelum diambil oleh orang lain.

Apakah Kompas takut dengan persaingan, atau merasa marketnya semakin mengecil dengan hadirnya banyak pesaing? Tentu saja bukan karena itu, tetapi sebagai market leader, Kompas harus tetap lincah bergerak dan tidak boleh merasa TIDAK TERKALAHKAN............

Comments

Popular posts from this blog

Kontes Dangdut Indonesia (KDI)

Ketika saya menulis tentang Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan Indonesian Idol, kawan saya minta saya nulis tentang Kontes Dangdut Indonesia (KDI), sebuah acara yang mirip dengan AFI di Indosiar tetapi mengkhususkan diri pada lagu dangdut dan disiarkan oleh TPI. Saya sejujurnya belum pernah nonton KDI, karena itu, dalam beberapa hari kemarin hampir setiap jam setelah pulang kantor saya usahakan untuk selalu nonton TPI. Dan TPI memang secara gencar menayangkan iklan KDI yang sekarang sudah memasuki tahapan audisi di berbagai kota. Mirip dengan strategi Indosiar, hampir setiap ada spot iklan kosong, diisi dengan iklan KDI. Satu pertanyaan yang menggelitik saya adalah, bagaimana kans kesuksesan acara ini dalam merebut hati pemirsa? Ada dua indikasi kesuksesan acara ini: Pertama, tentu saja rating yang dikeluarkan AC NIELSEN. Dan Kedua, adalah SMS yang masuk bisa seberapa besar. Menariknya, acara-acara dangdut yang selama ini ditayangkan berbagai stasiun Televisi dalam hal rating...

Rumput Tetangga Yang Selalu Lebih Hijau

Minggu kemarin, Plasmedia mengadakan outbound untuk karyawannya. Bertempat di Sela Bintana, Sukabumi. Kegiatan outboundnya dilakukan dalam fasilitas milik Cakrawala outbound. Ada banyak sekali kegiatan dalam dan luar lapangan, yang intinya adalah team building, membangun interaktifitas dan kerjasama antar personil di berbagai departemen. Salah satu yang paling menarik saya adalah ketika tim-tim yang dibagi dalam beberapa kelompok oleh panitia diberikan berbagai barang-barang mulai dari sedotan, kayu ice cream, balon, gunting, kertas, karton, lem, dan lain-lain. Setiap kelompok diminta untuk membuat logo yang mencerminkan visi dan misi kelompok masing-masing. Dalam waktu satu jam, setiap kelompok mulai berpikir keras bagaimana membuat logo-logo tersebut secara baik. Ada kelompok yang membuat kafe, karena di situ ada meja makannya, ada kelompok yang membuat gambar kapal, gambar rumah, dan juga rumah beserta lingkungannya. Yang menang adalah kelompok yang membuat tiga buah tabung d...

Mengemas Ulang Sebuah Merek

Setengah tahun yang lalu saya berkunjung ke kantor Jawa Pos di Jakarta di Graha Pena di daerah Kebayoran. Saya berbincang dengan salah satu staf redaksi Indo Pos yang merupakan salah satu grup koran dari Jawa Pos. Gedung itu juga menjadi kantor bagi harian Rakyat Merdeka dan Lampur merah yang juga masih satu grup. Kita berbincang panjang lebar, terutama mengenai perjalanan Indo Pos dan perkembangannya selama hadir di Jakarta. Ceritanya sudah lama memang grup Jawa Pos menginginkan untuk bisa merambah Jakarta. Karena itu, distribusi Jawa Pos untuk Jakarta memang sudah digencarkan sejak bertahun-tahun yang lalu, dan diterbitkanlah Jasa Pos edisi Jakarta. Namun hasilnya memang tidak begitu memuaskan. Walaupun distribusinya cukup merata, tetapi pertumbuhannya tidak terlalu pesat. Akhirnya, setelah melalui berbagai penelitian, ditemukan bahwa salah satu penyebabnya adalah karena nama Jawa Pos nampaknya tidak terlalu “berkenan” di hati orang Jakarta. Kesannya sebagai Koran daerah menye...