Skip to main content

Jangan Terkejut dengan Perubahan

Beberapa hari yang lalu, teman saya mengirim email yang isinya mengabarkan bahwa sekarang ini kondisi website Pemerintahan di berbagai daerah sudah jauh berubah dibandingkan beberapa saat lalu. Dia memberikan contoh beberapa website Pemda, di mana isinya selalu update dengan hal-hal baru, dari sisi desain dan navigasi juga tidak kalah tertinggal dengan desain web untuk organisasi bisnis dan profesional. Artinya, dia ingin mengatakan, sekarang ini kondisi pasar dan juga kompetitor pembuat web sudah jauh lebih maju dibandingkan dulu.

Ini menurut saya menarik, karena kesadaran semacam ini sangat dipentingkan oleh setiap orang dalam perusahaan. Kesadaran bahwa di luar sana, perubahan itu selalu terjadi, terutama di dua sisi; yaitu customer (konsumen pengguna) dan juga competitor (pesaing). Teori 3C (company-customer-competitor) Kenichi Ohmae di sini menjadi relevan.

Setiap perusahaan (company) dituntut untuk melihat berbagai perubahan yang terjadi baik di sisi konsumen maupun pesaing. Mungkin sekarang ini kita merasa bahwa apa yang kita berikan adalah yang terbaik dengan konsumen. Perasaan semacam ini tidak boleh terus menerus menghinggapi kita tanpa adanya kesadaran bahwa bisa jadi apa yang kita berikan ini tidak lagi relevan sekarang ini. Ketidak relevan ini bisa jadi karena dua hal: selera konsumen yang berubah atau pesaing memberikan penawaran yang lebih baik dari kita.

Kerangka pemikiran dengan memperhatikan perubahan dari 3C ini menjadi mutlak diperlukan dalam persaingan yang semakin ketat ini. Bolehlah kita merasa bahwa apa yang kita berikan adalah yang terbaik, tetapi perasaan itu tidak boleh menutup mata bahwa pesaing-pesaing kita juga belajar terus menerus dan selalu mencari cara untuk bisa mengalahkan kita.

Jadi, pelajaran terbaiknya adalah JANGAN PERNAH PUAS DENGAN APA YANG SUDAH KITA LAKUKAN, Saatnya TERUS MENCARI apa yang terbaik yang bisa kita berikan buat konsumen...

Comments

Popular posts from this blog

Kontes Dangdut Indonesia (KDI)

Ketika saya menulis tentang Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan Indonesian Idol, kawan saya minta saya nulis tentang Kontes Dangdut Indonesia (KDI), sebuah acara yang mirip dengan AFI di Indosiar tetapi mengkhususkan diri pada lagu dangdut dan disiarkan oleh TPI. Saya sejujurnya belum pernah nonton KDI, karena itu, dalam beberapa hari kemarin hampir setiap jam setelah pulang kantor saya usahakan untuk selalu nonton TPI. Dan TPI memang secara gencar menayangkan iklan KDI yang sekarang sudah memasuki tahapan audisi di berbagai kota. Mirip dengan strategi Indosiar, hampir setiap ada spot iklan kosong, diisi dengan iklan KDI. Satu pertanyaan yang menggelitik saya adalah, bagaimana kans kesuksesan acara ini dalam merebut hati pemirsa? Ada dua indikasi kesuksesan acara ini: Pertama, tentu saja rating yang dikeluarkan AC NIELSEN. Dan Kedua, adalah SMS yang masuk bisa seberapa besar. Menariknya, acara-acara dangdut yang selama ini ditayangkan berbagai stasiun Televisi dalam hal rating...

Rumput Tetangga Yang Selalu Lebih Hijau

Minggu kemarin, Plasmedia mengadakan outbound untuk karyawannya. Bertempat di Sela Bintana, Sukabumi. Kegiatan outboundnya dilakukan dalam fasilitas milik Cakrawala outbound. Ada banyak sekali kegiatan dalam dan luar lapangan, yang intinya adalah team building, membangun interaktifitas dan kerjasama antar personil di berbagai departemen. Salah satu yang paling menarik saya adalah ketika tim-tim yang dibagi dalam beberapa kelompok oleh panitia diberikan berbagai barang-barang mulai dari sedotan, kayu ice cream, balon, gunting, kertas, karton, lem, dan lain-lain. Setiap kelompok diminta untuk membuat logo yang mencerminkan visi dan misi kelompok masing-masing. Dalam waktu satu jam, setiap kelompok mulai berpikir keras bagaimana membuat logo-logo tersebut secara baik. Ada kelompok yang membuat kafe, karena di situ ada meja makannya, ada kelompok yang membuat gambar kapal, gambar rumah, dan juga rumah beserta lingkungannya. Yang menang adalah kelompok yang membuat tiga buah tabung d...

Mengemas Ulang Sebuah Merek

Setengah tahun yang lalu saya berkunjung ke kantor Jawa Pos di Jakarta di Graha Pena di daerah Kebayoran. Saya berbincang dengan salah satu staf redaksi Indo Pos yang merupakan salah satu grup koran dari Jawa Pos. Gedung itu juga menjadi kantor bagi harian Rakyat Merdeka dan Lampur merah yang juga masih satu grup. Kita berbincang panjang lebar, terutama mengenai perjalanan Indo Pos dan perkembangannya selama hadir di Jakarta. Ceritanya sudah lama memang grup Jawa Pos menginginkan untuk bisa merambah Jakarta. Karena itu, distribusi Jawa Pos untuk Jakarta memang sudah digencarkan sejak bertahun-tahun yang lalu, dan diterbitkanlah Jasa Pos edisi Jakarta. Namun hasilnya memang tidak begitu memuaskan. Walaupun distribusinya cukup merata, tetapi pertumbuhannya tidak terlalu pesat. Akhirnya, setelah melalui berbagai penelitian, ditemukan bahwa salah satu penyebabnya adalah karena nama Jawa Pos nampaknya tidak terlalu “berkenan” di hati orang Jakarta. Kesannya sebagai Koran daerah menye...