Apa bedanya Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan Indonesian Idol, dan siapakah yang akan memenangkan persaingan di antara keduanya? Pertanyaan menarik di tengah hiruk pikuk dan histeria masa ketika menonton kedua acara ini. Keduanya sama-sama reality show yang diadopsi melalui pola franchise di luar negeri. Indonesian Idol yang ditayangkan RCTI mengadopsi American Idol yang sangat sukses di Amerika, sedangkan AFI lisensinya dibeli Indosiar dari La Academia yang asalnya dari Meksiko.
Pola kedua acara ini nyaris sama: menyeleksi calon-calon berbakat yang berusia antara 18 hingga 25 tahun dari seluruh Indonesia. Mereka dibagi menjadi 5 wilayah: Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Medan. Masing-masing wilayah kemudian dilakukan audisi untuk menentukan 2 orang wakil masing-masing wilayah.
Baru pada tahap berikutnya keduanya mengalami proses berbeda. AFI mengasramakan 10 orang akademia tersebut dalam sebuah proses pendidikan selama kurang lebih 3 bulan. Dalam asrama yang ketat –tidak boleh ada handphone, tidak boleh berhubungan dengan dunia luar- para akademia dididik vokal, koreografi, psikologi, bahasa inggris, hingga seni pentas. Setiap minggu mereka melakukan pentas, dan satu orang akademia terpaksa di”eliminasi” kalau mendapatkan SMS paling sedikit dari pemirsa.
Indonesian Idol tidak mengasramakan peserta. Mereka memang diberikan pelatihan-pelatihan sebelum pentas, tetapi tidak diasramakan. Sama seperti AFI, setiap minggu ada konser Indonesian Idol yang penentuan siapa yang tereliminasi juga dilakukan lewat SMS pemirsa. Salah satu yang ingin berbeda dari AFI adalah, bahwa Indonesian Idol menjual produk yang lebih jadi, pesertanya memang diseleksai dari orang-orang yang punya bakat tinggi dalam menyanyi.
Menarik untuk melihat bahwa kedua acara ini bersaing memperebutkan pemirsa TV di Indonesia. Persaingan pertama tentu saja adalah dalam rating. Untuk saat ini, AFI unggul menurut survey AC nielsen dengan 46% audience share (SWA), sementara Indonesian Idol menguntit dengan 18% audience share. Hebatnya, acara turunan AFI seperti Diary AFI, Konser Menuju Bintang, Jelang Konser, dan Kilas Konser juga membukukan rating yang lumayan tinggi. Persaingan rating tentu saja berimbas pada pemasukan iklan, karena pengiklan banyak menjadikan rating sebagai ukuran.
Persaingan kedua adalah dalam memperebutkan SMS pemirsa. Di laporan SWA disebutkan, kalau dalam seminggu AFI bisa menangguk sekitar 250.000 SMS dari pemirsa, karena setiap pemirsa boleh memberikan suara lebih dari satu kali. Jika satu kali SMS orang harus membayar Rp 2000, maka dalam satu minggu, Indosiar menangguk pendapatan kotor Rp 500 juta hanya dari SMS. SMS ini melonjak dua kali lipat pada saat grand final.
Di sini, kunci kesuksesan AFI terutama adalah dalam membetot emosi pemirsa untuk ikut terlibat dalam setiap episode ”drama” akademia setiap minggunya. Setiap hari, melalui ”diary AFI”, pemirsa dikenalkan satu persatu dengan kepribadian akademia yang akan mereka pilih setelah konser. Karena itu, bisa jadi pilihan pemirsa tidak hanya berkaitan dengan kualitas menyanyi dari peserta, tetapi juga dengan latar belakang kehidupan pribadinya, ataupun sikap dan perilaku kesehariannya.
Faktor emosional ini akan lebih terasa pada saat konser. Di awal konser pemirsa diberitahu ranking tiap-tiap akademia. Dengan demikian, bagi pendukung masing-masing akan berusaha mengirim SMS sebanyak-banyaknya. Karena itulah di beberapa konser sering terjadi fluktuasi yang dinamis. Kadang seorang akademia di awal konser menempati posisi akhir, tiba-tiba di akhir konser dia melejit hingga posisi 2 atau 3.
Nah ketika eliminasi inilah, terjadi drama tangis kesedihan yang dipertontonkan di atas panggung. Menariknya, karena para akademia ini diasramakan, dan tidak boleh berhubungan dengan dunia luar, hubungan antara satu dengan yang lain mau tidak mau tercipta dengan baik. Sehingga, tangisan kesedihan yang dipertontonkan di atas panggung tidak terkesan dibuat-buat. Mereka betul-betul merasa kehilangan, apalagi kalau orang yang dieliminasi adalah orang yang sangat dekat di asrama.
Faktor inilah yang menjadi kelebihan AFI dibandingkan dengan Indonesian Idol sekarang ini. Walaupun mungkin secara produk kualitasnya standar, tetapi dengan dibungkus ”ikatan emosional” dengan pemirsa, tontonan standar tersebut berubah menjadi hiburan yang mengasyikkan.
Tentu saja kita lihat apa yang akan dilakukan oleh Indonesian Idol yang juga sudah memasuki babak eliminasi. Apakah ”produk jadi yang berkualitas” yang mereka jual mampu menarik pemirsa yang cukup besar sebagaimana AFI atau tidak.
Pola kedua acara ini nyaris sama: menyeleksi calon-calon berbakat yang berusia antara 18 hingga 25 tahun dari seluruh Indonesia. Mereka dibagi menjadi 5 wilayah: Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Medan. Masing-masing wilayah kemudian dilakukan audisi untuk menentukan 2 orang wakil masing-masing wilayah.
Baru pada tahap berikutnya keduanya mengalami proses berbeda. AFI mengasramakan 10 orang akademia tersebut dalam sebuah proses pendidikan selama kurang lebih 3 bulan. Dalam asrama yang ketat –tidak boleh ada handphone, tidak boleh berhubungan dengan dunia luar- para akademia dididik vokal, koreografi, psikologi, bahasa inggris, hingga seni pentas. Setiap minggu mereka melakukan pentas, dan satu orang akademia terpaksa di”eliminasi” kalau mendapatkan SMS paling sedikit dari pemirsa.
Indonesian Idol tidak mengasramakan peserta. Mereka memang diberikan pelatihan-pelatihan sebelum pentas, tetapi tidak diasramakan. Sama seperti AFI, setiap minggu ada konser Indonesian Idol yang penentuan siapa yang tereliminasi juga dilakukan lewat SMS pemirsa. Salah satu yang ingin berbeda dari AFI adalah, bahwa Indonesian Idol menjual produk yang lebih jadi, pesertanya memang diseleksai dari orang-orang yang punya bakat tinggi dalam menyanyi.
Menarik untuk melihat bahwa kedua acara ini bersaing memperebutkan pemirsa TV di Indonesia. Persaingan pertama tentu saja adalah dalam rating. Untuk saat ini, AFI unggul menurut survey AC nielsen dengan 46% audience share (SWA), sementara Indonesian Idol menguntit dengan 18% audience share. Hebatnya, acara turunan AFI seperti Diary AFI, Konser Menuju Bintang, Jelang Konser, dan Kilas Konser juga membukukan rating yang lumayan tinggi. Persaingan rating tentu saja berimbas pada pemasukan iklan, karena pengiklan banyak menjadikan rating sebagai ukuran.
Persaingan kedua adalah dalam memperebutkan SMS pemirsa. Di laporan SWA disebutkan, kalau dalam seminggu AFI bisa menangguk sekitar 250.000 SMS dari pemirsa, karena setiap pemirsa boleh memberikan suara lebih dari satu kali. Jika satu kali SMS orang harus membayar Rp 2000, maka dalam satu minggu, Indosiar menangguk pendapatan kotor Rp 500 juta hanya dari SMS. SMS ini melonjak dua kali lipat pada saat grand final.
Di sini, kunci kesuksesan AFI terutama adalah dalam membetot emosi pemirsa untuk ikut terlibat dalam setiap episode ”drama” akademia setiap minggunya. Setiap hari, melalui ”diary AFI”, pemirsa dikenalkan satu persatu dengan kepribadian akademia yang akan mereka pilih setelah konser. Karena itu, bisa jadi pilihan pemirsa tidak hanya berkaitan dengan kualitas menyanyi dari peserta, tetapi juga dengan latar belakang kehidupan pribadinya, ataupun sikap dan perilaku kesehariannya.
Faktor emosional ini akan lebih terasa pada saat konser. Di awal konser pemirsa diberitahu ranking tiap-tiap akademia. Dengan demikian, bagi pendukung masing-masing akan berusaha mengirim SMS sebanyak-banyaknya. Karena itulah di beberapa konser sering terjadi fluktuasi yang dinamis. Kadang seorang akademia di awal konser menempati posisi akhir, tiba-tiba di akhir konser dia melejit hingga posisi 2 atau 3.
Nah ketika eliminasi inilah, terjadi drama tangis kesedihan yang dipertontonkan di atas panggung. Menariknya, karena para akademia ini diasramakan, dan tidak boleh berhubungan dengan dunia luar, hubungan antara satu dengan yang lain mau tidak mau tercipta dengan baik. Sehingga, tangisan kesedihan yang dipertontonkan di atas panggung tidak terkesan dibuat-buat. Mereka betul-betul merasa kehilangan, apalagi kalau orang yang dieliminasi adalah orang yang sangat dekat di asrama.
Faktor inilah yang menjadi kelebihan AFI dibandingkan dengan Indonesian Idol sekarang ini. Walaupun mungkin secara produk kualitasnya standar, tetapi dengan dibungkus ”ikatan emosional” dengan pemirsa, tontonan standar tersebut berubah menjadi hiburan yang mengasyikkan.
Tentu saja kita lihat apa yang akan dilakukan oleh Indonesian Idol yang juga sudah memasuki babak eliminasi. Apakah ”produk jadi yang berkualitas” yang mereka jual mampu menarik pemirsa yang cukup besar sebagaimana AFI atau tidak.
Comments