Sering sekali kita membuat perbandingan-perbandingan di atas kertas, terutama dalam sebuah kompetisi atau pertandingan. Piala Eropa 2004 kali ini juga memberikan prediksi-prediksi tentang siapa yang akan menang dan kalah, dan siapa yang diunggulkan menjadi juara.
Tetapi yang sering dilupakan adalah, prediksi dan perhitungan di atas kertas memang perlu, tetapi pada saat pertandingan berlangsung, prediksi tersebut kadang tidak sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Apalagi, jika sebuah pertandingan menyangkut kelompok yang terdiri dari banyak orang, kemungkinan prediksi yang salah sangat mungkin terjadi.
Beberapa pertandingan awal mengindikasikan hal tersebut. Kesebelasan Portugal dengan generasi emasnya kalah melawan Yunani. Hebatnya, kesebelasan Spanyol juga tidak mampu mengalahkan Yunani dan hanya mampu bermain imbang, yang menyebabkan Spanyol dan Portugal harus saling membunuh untuk bisa terus ke babak kedua. Padahal, jelas-jelas kedua negara ini di atas kertas lebih hebat dari Yunani.
Italia yang juga diunggulkan atas Denmark ternyata di lapangan malah Denmark yang berhasil menguasai permainan. Beruntung Italia mampu ”menahan” Denmark dan bermain imbang 1-1. Kejutan lain adalah ketika Kroasia nyaris mempermalukan Perancis dengan dua gol, sebelum disamakan Zidane dan ditolong wasit karena sebelum Trezeguet memasukkan bola, terlebih dahulu tangannya menyentuh bola, tetapi oleh wasit dianggap tidak sengaja.
Pelajaran menarik yang bisa diambil adalah, walaupun misalnya di atas kertas kompetitor kita lebih unggul dari sisi sumber daya, finansial, dan lain-lain, belum tentu pada pertarungan sesungguhnya mereka akan mengungguli kita.......
Tetapi yang sering dilupakan adalah, prediksi dan perhitungan di atas kertas memang perlu, tetapi pada saat pertandingan berlangsung, prediksi tersebut kadang tidak sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Apalagi, jika sebuah pertandingan menyangkut kelompok yang terdiri dari banyak orang, kemungkinan prediksi yang salah sangat mungkin terjadi.
Beberapa pertandingan awal mengindikasikan hal tersebut. Kesebelasan Portugal dengan generasi emasnya kalah melawan Yunani. Hebatnya, kesebelasan Spanyol juga tidak mampu mengalahkan Yunani dan hanya mampu bermain imbang, yang menyebabkan Spanyol dan Portugal harus saling membunuh untuk bisa terus ke babak kedua. Padahal, jelas-jelas kedua negara ini di atas kertas lebih hebat dari Yunani.
Italia yang juga diunggulkan atas Denmark ternyata di lapangan malah Denmark yang berhasil menguasai permainan. Beruntung Italia mampu ”menahan” Denmark dan bermain imbang 1-1. Kejutan lain adalah ketika Kroasia nyaris mempermalukan Perancis dengan dua gol, sebelum disamakan Zidane dan ditolong wasit karena sebelum Trezeguet memasukkan bola, terlebih dahulu tangannya menyentuh bola, tetapi oleh wasit dianggap tidak sengaja.
Pelajaran menarik yang bisa diambil adalah, walaupun misalnya di atas kertas kompetitor kita lebih unggul dari sisi sumber daya, finansial, dan lain-lain, belum tentu pada pertarungan sesungguhnya mereka akan mengungguli kita.......
Comments