Dua hari yang lalu di jalan raya saya melihat sebuah taxi Express dengan mobil baru. Saya sekilas melihat merek mobil tersebut, dan ternyata adalah mobil Toyota. Sekilas melihat model belakangnya, saya mengira kalau mobil itu adalah Vios, karena nyaris sama persis. Saya kaget karena sepengetahuan saya belum dengar berita dari pihak Toyota mau menjadikan Vios sebagai taksi. Setelah melihat lebih teliti, oo… ternyata Toyota memberikan brand baru untuk mobil ini dengan Limo.
Saya melihat sebenarnya ini sebuah jalan tengah untuk sebuah pilihan sulit bagi Astra Internasional selaku ATPM di Indonesia yang memegang merek Toyota. Setelah keluar Toyota Vios, ada permintaan dari beberapa perusahaan taksi, konon termasuk Blue Bird untuk menjadikan Vios sebagai taksi.
Permintaan ini sebenarnya memiliki dua sisi yang sulit buat Astra. Di satu sisi, pembelian dari pengelola taksi bukan merupakan jumlah yang sedikit. Akan tetapi, di sisi lain, mobil yang dijadikan taksi di Indonesia biasanya langsung turun kelasnya. Karena itu, perlu dicarikan jalan tengah yang saling menguntungkan, dan keluarlah Vios versi taksi yang diberi merek Limo.
Sebenarnya, fenomena pemberian dua merek untuk satu produk yang sama bukan sekali ini terjadi di dunia otomotif. Lebih dulu di Indonesia kita lihat, Opel Blazer yang berubah menjadi Chevrolet Blazer, dan yang paling gres tentu saja adalah saudara kembar Daihatsu Xenia yang persis sama dengan Toyota Avanza.
Menariknya, dari data sementara, orang yang indent untuk beli Toyota Avanza ternyata lebih banyak dari Daihatsu Xenia, padahal hampir semua orang juga mafhum kalau yang membuat Avanza adalah Daihatsu. Ini artinya, persepsi orang tentang merek di Indonesia sekarang ini sudah semakin kuat. Walaupun sudah sama-sama tahu dari sisi kualitas dua produk ini sama, tetapi salah satunya dipersepsi lebih berkualitas dibanding yang lain.
Kembali ke kasus Limo, jalan tengah ini adalah salah satu langkah terbaik, agar tidak terulang kasus Soluna yang dijadikan taksi, dan menggerus merek ini sedikit demi sedikit. Jika ada yang bertanya, apakah Vios dijadikan taksi? Tentu saja tidak, karena yang dijadikan taksi adalah Limo, dan bukan Vios.
Apakah ini akan berpengaruh terhadap konsumen? Bisa ya bisa juga tidak. Walaupun konsumen tahu bahwa Limo adalah sama dengan Vios, tetapi karena secara harfiah berbeda, hal itu tidak akan menurunkan confidence orang untuk membeli Vios karena dijadikan taksi, sekaligus menjaga image Vios agar tidak turun. Semoga.........
Saya melihat sebenarnya ini sebuah jalan tengah untuk sebuah pilihan sulit bagi Astra Internasional selaku ATPM di Indonesia yang memegang merek Toyota. Setelah keluar Toyota Vios, ada permintaan dari beberapa perusahaan taksi, konon termasuk Blue Bird untuk menjadikan Vios sebagai taksi.
Permintaan ini sebenarnya memiliki dua sisi yang sulit buat Astra. Di satu sisi, pembelian dari pengelola taksi bukan merupakan jumlah yang sedikit. Akan tetapi, di sisi lain, mobil yang dijadikan taksi di Indonesia biasanya langsung turun kelasnya. Karena itu, perlu dicarikan jalan tengah yang saling menguntungkan, dan keluarlah Vios versi taksi yang diberi merek Limo.
Sebenarnya, fenomena pemberian dua merek untuk satu produk yang sama bukan sekali ini terjadi di dunia otomotif. Lebih dulu di Indonesia kita lihat, Opel Blazer yang berubah menjadi Chevrolet Blazer, dan yang paling gres tentu saja adalah saudara kembar Daihatsu Xenia yang persis sama dengan Toyota Avanza.
Menariknya, dari data sementara, orang yang indent untuk beli Toyota Avanza ternyata lebih banyak dari Daihatsu Xenia, padahal hampir semua orang juga mafhum kalau yang membuat Avanza adalah Daihatsu. Ini artinya, persepsi orang tentang merek di Indonesia sekarang ini sudah semakin kuat. Walaupun sudah sama-sama tahu dari sisi kualitas dua produk ini sama, tetapi salah satunya dipersepsi lebih berkualitas dibanding yang lain.
Kembali ke kasus Limo, jalan tengah ini adalah salah satu langkah terbaik, agar tidak terulang kasus Soluna yang dijadikan taksi, dan menggerus merek ini sedikit demi sedikit. Jika ada yang bertanya, apakah Vios dijadikan taksi? Tentu saja tidak, karena yang dijadikan taksi adalah Limo, dan bukan Vios.
Apakah ini akan berpengaruh terhadap konsumen? Bisa ya bisa juga tidak. Walaupun konsumen tahu bahwa Limo adalah sama dengan Vios, tetapi karena secara harfiah berbeda, hal itu tidak akan menurunkan confidence orang untuk membeli Vios karena dijadikan taksi, sekaligus menjaga image Vios agar tidak turun. Semoga.........
Comments