Apakah keberhasilan seorang pemimpin tergantung dari gaya kepemimpinan yang dia bangun, dan seberapa besar pengaruhnya terhadap jalannya roda organisasi ataupun pemerintahan? Sebuah pertanyaan menarik mengingat relevansinya dengan situasi bangsa Indonesia sekarang ini yang akan menyelenggarakan pemilu Presiden.
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Sedangkan gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin bersikap, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain dalam mempengaruhi orang untuk melakukan sesuatu.
Banyak studi yang sudah dilakukan untuk melihat gaya kepemimpinan seseorang. Salah satu yang terkenal adalah yang dikemukakan oleh Blanchard, yang mengemukakan 4 gaya dari sebuah kepemimpinan. Gaya kepemimpinan ini dipengaruhi oleh bagaimana cara seorang pemimpin memberikan perintah, dan di sisi lain adalah cara mereka membantu bawahannya.
Gaya pertama adalah yang disebut sebagai “directing”, sebuah gaya di mana seorang pemimpin dalam proses pengambilan keputusan memberikan aturan-aturan dan proses yang detil kepada bawahan. Pelaksanaan di lapangan harus menyesuaikan dengan detil yang sudah dikerjakan.
Gaya kedua adalah gaya “coaching”, gaya di mana pemimpin tidak hanya memberikan detil proses dan aturan kepada bawahan, tetapi juga menjelaskan mengapa sebuah keputusan itu diambil, mendukung proses perkembangannya, dan juga menerima berbagai masukan dari bawahan.
Gaya ketiga adalah gaya “supporting”, sebuah gaya di mana pemimpin memfasilitasi dan membantu upaya bawahannya dalam melakukan tugas. Dalam hal ini, pemimpin tidak memberikan arahan secara detil, tetapi tanggung jawab dan proses pengambilan keputusan dibagi bersama dengan bawahan.
Gaya keempat adalah gaya “delegating”, sebuah gaya di mana seorang pemimpin mendelegasikan seluruh wewenang dan tanggung jawabnya kepada bawahan.
Keempat gaya ini tentu saja mempunyai kelemahan dan kelebihan, dan sangat tergantung dari lingkungan di mana seorang pemimpin berada, dan juga kesiapan dari bawahannya. Makanya kemudian timbul apa yang disebut sebagai “situational leadership”. Situational leadership mengindikasikan bagaimana seorang pemimpin harus menyesuaikan dengan keadaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Pertanyaannya kemudian, apa gaya yang cocok yang diterapkan untuk kepemimpinan di Indonesia?
Sangat menarik untuk melihat bagaimana gaya kepemimpinan calon presiden dan wakil presiden sekarang ini, dan bagaimana memaksimalkan gaya tersebut untuk pembangunan bangsa di masa mendatang. Tulisan ini lebih sebagai pengamatan sekilas penulis dan tidak berpretensi apapun, apalagi mempengaruhi proses pemilihan.
Kita mulai dari Megawati Sukarnoputri yang sekarang menjadi Presiden. Gaya yang diterapkan Megawati nampaknya cenderung kearah gaya nomer 4 (delegating), sebuah gaya di mana seorang pemimpin mendelegasikan tanggung jawab dan pengambilan keputusan kepada para pembantunya. Ini bisa dilihat secara sekilas dari hampir semua keputusan menyangkut berbagai hal sangat tergantung dari tim dan para pembantunya.
Untuk sebuah delegasi yang efektif, seorang pemimpin membutuhkan visi dan target yang jelas dari apa yang didelegasikan. Salah satu kelemahan Mega adalah komunikasi yang kurang dari visi dan target yang ingin dicapai. Kurang intensifnya Mega mengkomunikasikan visi inilah yang bisa membuat penafsiran dan pelaksanaannya berbeda dari apa yang diinginkan. Karena itu, jika ingin kembali memakai gaya seperti ini, Mega harus bisa mengkomunikasikan visi dan targetnya secara jelas, sehingga para pembantu presiden, dan juga rakyat bisa melihat dari hasil kerjanya.
Wiranto dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dengan latar belakang militer yang dimiliki cenderung berada pada gaya “directing” dan “coaching”, yang secara umum orientasinya adalah hasil. Dalam doktrin militer, sebuah misi harus dilakukan sampai selesai dan berhasil, apapun dan berapapun harga yang harus dibayar. Gaya seperti ini memang mengindikasikan akan adanya ketertiban, disiplin, dan orientasi pada target yang harus dicapai. Namun, harus diimbangi dengan orientasi pada proses, sehingga tidak menjadi anarki dan cenderung menghalalkan segala cara. Wakil Presiden yang tepat, dan para pembantu dari sisi kabinet yang berkualitas akan sangat menentukan kesuksesan kepemimpinan mereka.
Sedangkan dua calon presiden yang lain: Amien Rais dan Hamzah Haz nampaknya cenderung memakai gaya “supporting”, sebuah gaya di mana pemimpin memberikan ruang kepada bawahannya untuk ikut dalam proses pengambilan keputusan. Jika keduanya menjadi presiden, memilih komposisi kabinet yang tepat mutlak diperlukan, karena secara teknis kemampuan mereka tentu saja terbatas. Tanpa dukungan yang baik dari sisi operasional, visi yang mereka miliki akan sulit dilaksanakan di lapangan.
Tentu saja, sekali lagi sebagai sebuah pengamatan, anggap saja tulisan ini sebagai bacaan ringan menjelang pemilihan presiden. Toh, pilihan tetap pada hati nurani Anda, bukan?
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Sedangkan gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin bersikap, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain dalam mempengaruhi orang untuk melakukan sesuatu.
Banyak studi yang sudah dilakukan untuk melihat gaya kepemimpinan seseorang. Salah satu yang terkenal adalah yang dikemukakan oleh Blanchard, yang mengemukakan 4 gaya dari sebuah kepemimpinan. Gaya kepemimpinan ini dipengaruhi oleh bagaimana cara seorang pemimpin memberikan perintah, dan di sisi lain adalah cara mereka membantu bawahannya.
Gaya pertama adalah yang disebut sebagai “directing”, sebuah gaya di mana seorang pemimpin dalam proses pengambilan keputusan memberikan aturan-aturan dan proses yang detil kepada bawahan. Pelaksanaan di lapangan harus menyesuaikan dengan detil yang sudah dikerjakan.
Gaya kedua adalah gaya “coaching”, gaya di mana pemimpin tidak hanya memberikan detil proses dan aturan kepada bawahan, tetapi juga menjelaskan mengapa sebuah keputusan itu diambil, mendukung proses perkembangannya, dan juga menerima berbagai masukan dari bawahan.
Gaya ketiga adalah gaya “supporting”, sebuah gaya di mana pemimpin memfasilitasi dan membantu upaya bawahannya dalam melakukan tugas. Dalam hal ini, pemimpin tidak memberikan arahan secara detil, tetapi tanggung jawab dan proses pengambilan keputusan dibagi bersama dengan bawahan.
Gaya keempat adalah gaya “delegating”, sebuah gaya di mana seorang pemimpin mendelegasikan seluruh wewenang dan tanggung jawabnya kepada bawahan.
Keempat gaya ini tentu saja mempunyai kelemahan dan kelebihan, dan sangat tergantung dari lingkungan di mana seorang pemimpin berada, dan juga kesiapan dari bawahannya. Makanya kemudian timbul apa yang disebut sebagai “situational leadership”. Situational leadership mengindikasikan bagaimana seorang pemimpin harus menyesuaikan dengan keadaan dari orang-orang yang dipimpinnya. Pertanyaannya kemudian, apa gaya yang cocok yang diterapkan untuk kepemimpinan di Indonesia?
Sangat menarik untuk melihat bagaimana gaya kepemimpinan calon presiden dan wakil presiden sekarang ini, dan bagaimana memaksimalkan gaya tersebut untuk pembangunan bangsa di masa mendatang. Tulisan ini lebih sebagai pengamatan sekilas penulis dan tidak berpretensi apapun, apalagi mempengaruhi proses pemilihan.
Kita mulai dari Megawati Sukarnoputri yang sekarang menjadi Presiden. Gaya yang diterapkan Megawati nampaknya cenderung kearah gaya nomer 4 (delegating), sebuah gaya di mana seorang pemimpin mendelegasikan tanggung jawab dan pengambilan keputusan kepada para pembantunya. Ini bisa dilihat secara sekilas dari hampir semua keputusan menyangkut berbagai hal sangat tergantung dari tim dan para pembantunya.
Untuk sebuah delegasi yang efektif, seorang pemimpin membutuhkan visi dan target yang jelas dari apa yang didelegasikan. Salah satu kelemahan Mega adalah komunikasi yang kurang dari visi dan target yang ingin dicapai. Kurang intensifnya Mega mengkomunikasikan visi inilah yang bisa membuat penafsiran dan pelaksanaannya berbeda dari apa yang diinginkan. Karena itu, jika ingin kembali memakai gaya seperti ini, Mega harus bisa mengkomunikasikan visi dan targetnya secara jelas, sehingga para pembantu presiden, dan juga rakyat bisa melihat dari hasil kerjanya.
Wiranto dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dengan latar belakang militer yang dimiliki cenderung berada pada gaya “directing” dan “coaching”, yang secara umum orientasinya adalah hasil. Dalam doktrin militer, sebuah misi harus dilakukan sampai selesai dan berhasil, apapun dan berapapun harga yang harus dibayar. Gaya seperti ini memang mengindikasikan akan adanya ketertiban, disiplin, dan orientasi pada target yang harus dicapai. Namun, harus diimbangi dengan orientasi pada proses, sehingga tidak menjadi anarki dan cenderung menghalalkan segala cara. Wakil Presiden yang tepat, dan para pembantu dari sisi kabinet yang berkualitas akan sangat menentukan kesuksesan kepemimpinan mereka.
Sedangkan dua calon presiden yang lain: Amien Rais dan Hamzah Haz nampaknya cenderung memakai gaya “supporting”, sebuah gaya di mana pemimpin memberikan ruang kepada bawahannya untuk ikut dalam proses pengambilan keputusan. Jika keduanya menjadi presiden, memilih komposisi kabinet yang tepat mutlak diperlukan, karena secara teknis kemampuan mereka tentu saja terbatas. Tanpa dukungan yang baik dari sisi operasional, visi yang mereka miliki akan sulit dilaksanakan di lapangan.
Tentu saja, sekali lagi sebagai sebuah pengamatan, anggap saja tulisan ini sebagai bacaan ringan menjelang pemilihan presiden. Toh, pilihan tetap pada hati nurani Anda, bukan?
Comments