Skip to main content

Menjaga Momentum

Kalau ditanya, siapakah pahlawan yang meloloskan Inggris ke babak kedua dalam Piala Eropa 2004, hampir semua orang sepakat: salah satunya adalah Wayne Rooney, penyerang muda 18 tahun yang baru saja mencatat rekor pencetak gol termuda di Piala Eropa.

Sebuah kejuaraan adalah momentum. Momentum adalah saat yang tepat bagi seseorang untuk mengambil keputusan, berkarya, dan melakukan suatu hal. Rooney menemukan momentumnya di Piala Eropa kali ini. Sorot mata kepada tim Inggris yang sebelumnya lebih banyak menyoroti Beckham dan Owen, kali ini harus memalingkan pada Rooney.

Beckham dan Owen untuk sementara kehilangan momentum yang seharusnya bias mereka pertahankan. Kejuaraan besar semacam Piala Eropa adalah saat yang baik untuk mendongkrak personal brand mereka. Jika dalam suatu kejuaraan, seseorang mampu menunjukkan kinerja yang baik, hampir dapat dipastikan “harga”-nya akan berlipat ganda setelah kejuaraan selesai.

Lihatlah Rooney, setelah mencetak dua gol pada pertandingan yang sangat menentukan dengan Swiss, pihak klub Everton langsung memasang banderol 50 juta poundsterling bagi siapa saja yang ingin mentransfer Rooney. Padahal, dalam musim kompetisi kemarin, prestasi Rooney tidaklah terlalu cemerlang, bahkan karena usianya yang masih muda, lebih banyak menghadirkan kartu kuning dalam berbagai pertandingan.

Namun kini, dengan momentum Piala Eropa 2004, Rooney seharusnya bias cepat menanjak setelah ini. Yang paling penting setelah menemukan momentum adalah menjaga agar momentum tersebut tidak hilang. Momentum dijaga agar selalu naik, sehingga tidak hilang begitu saja.

Menjaga momentum ini penting, karena ada dua sisi yang terlibat. Dari sisi internal, menangkap momentum akan memberikan kepercayaan diri yang penuh dan motivasi yang tinggi untuk berbuat lebih baik. Yang diperlukan hanyalah konsistensi dan kontinyuitas dari apa yang telah kita kerjakan. Sementara dari sisi eksternal, ada dukungan dari lingkungan dan situasi yang sangat penting untuk menopang apa yang telah kita kerjakan.

Dukungan eksternal ini adalah persepsi bahwa kita bisa memberikan yang lebih baik dengan karya dan prestasi yang lebih berkualitas. Persepsi ini penting karena banyak sekali kasus di mana kesuksesan seseorang itu terinspirasi dan termotivasi oleh persepsi orang lain. Jika orang lain menganggap kita menguasai satu hal misalnya, kita akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk bisa memenuhi harapan orang tersebut. Yang pada akhirnya, dengan timbal balik seperti itu, persepsi orang itu bisa menjadi kenyataan.

Momentum itu tidak datang setiap saat, karena itu sudah selayaknya kita mempersiapkan diri menghadapi berbagai momentum yang akan terjadi di hadapan kita. Tugas kita adalah merencanakan suatu momentum untuk melakukan perubahan dan keputusan dalam hidup, dan menjaga momentum tersebut agar tetap naik. Setelah itu, bagaimana mempercepat (speed up) karya dan kerja kita sehingga menghasilkan kualitas dan kuantitas kerja yang lebih baik.

Bisakah momentum itu diciptakan ? Tentu saja bisa. Dalam setahun ada 365 hari yang bisa dijadikan momentum. Kita tinggal memilih pada tanggal dan hari apa menciptakan suatu momentum dalam hidup kita, di mana kita akan mengambil keputusan atau mengadakan perubahan. Rencanakan momentum tersebut, kalau perlu dengan berbagai unsur kejutan (surprise) bagi Anda dan lingkungan Anda. Jika berhasil, Anda tinggal tancap gas memanfaatkan momentum tersebut. Jika belum berhasil, masih ada hari lain yang bisa Anda persiapkan lebih baik lagi untuk sebuah momentum yang berbeda.....

Selamat mencari momentum....
Selasa, 22 Juni 2004, 04.17 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Kontes Dangdut Indonesia (KDI)

Ketika saya menulis tentang Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan Indonesian Idol, kawan saya minta saya nulis tentang Kontes Dangdut Indonesia (KDI), sebuah acara yang mirip dengan AFI di Indosiar tetapi mengkhususkan diri pada lagu dangdut dan disiarkan oleh TPI. Saya sejujurnya belum pernah nonton KDI, karena itu, dalam beberapa hari kemarin hampir setiap jam setelah pulang kantor saya usahakan untuk selalu nonton TPI. Dan TPI memang secara gencar menayangkan iklan KDI yang sekarang sudah memasuki tahapan audisi di berbagai kota. Mirip dengan strategi Indosiar, hampir setiap ada spot iklan kosong, diisi dengan iklan KDI. Satu pertanyaan yang menggelitik saya adalah, bagaimana kans kesuksesan acara ini dalam merebut hati pemirsa? Ada dua indikasi kesuksesan acara ini: Pertama, tentu saja rating yang dikeluarkan AC NIELSEN. Dan Kedua, adalah SMS yang masuk bisa seberapa besar. Menariknya, acara-acara dangdut yang selama ini ditayangkan berbagai stasiun Televisi dalam hal rating...

Rumput Tetangga Yang Selalu Lebih Hijau

Minggu kemarin, Plasmedia mengadakan outbound untuk karyawannya. Bertempat di Sela Bintana, Sukabumi. Kegiatan outboundnya dilakukan dalam fasilitas milik Cakrawala outbound. Ada banyak sekali kegiatan dalam dan luar lapangan, yang intinya adalah team building, membangun interaktifitas dan kerjasama antar personil di berbagai departemen. Salah satu yang paling menarik saya adalah ketika tim-tim yang dibagi dalam beberapa kelompok oleh panitia diberikan berbagai barang-barang mulai dari sedotan, kayu ice cream, balon, gunting, kertas, karton, lem, dan lain-lain. Setiap kelompok diminta untuk membuat logo yang mencerminkan visi dan misi kelompok masing-masing. Dalam waktu satu jam, setiap kelompok mulai berpikir keras bagaimana membuat logo-logo tersebut secara baik. Ada kelompok yang membuat kafe, karena di situ ada meja makannya, ada kelompok yang membuat gambar kapal, gambar rumah, dan juga rumah beserta lingkungannya. Yang menang adalah kelompok yang membuat tiga buah tabung d...

Mengemas Ulang Sebuah Merek

Setengah tahun yang lalu saya berkunjung ke kantor Jawa Pos di Jakarta di Graha Pena di daerah Kebayoran. Saya berbincang dengan salah satu staf redaksi Indo Pos yang merupakan salah satu grup koran dari Jawa Pos. Gedung itu juga menjadi kantor bagi harian Rakyat Merdeka dan Lampur merah yang juga masih satu grup. Kita berbincang panjang lebar, terutama mengenai perjalanan Indo Pos dan perkembangannya selama hadir di Jakarta. Ceritanya sudah lama memang grup Jawa Pos menginginkan untuk bisa merambah Jakarta. Karena itu, distribusi Jawa Pos untuk Jakarta memang sudah digencarkan sejak bertahun-tahun yang lalu, dan diterbitkanlah Jasa Pos edisi Jakarta. Namun hasilnya memang tidak begitu memuaskan. Walaupun distribusinya cukup merata, tetapi pertumbuhannya tidak terlalu pesat. Akhirnya, setelah melalui berbagai penelitian, ditemukan bahwa salah satu penyebabnya adalah karena nama Jawa Pos nampaknya tidak terlalu “berkenan” di hati orang Jakarta. Kesannya sebagai Koran daerah menye...