Skip to main content

Beda Spam dengan Email Marketing

Setiap hari, rasanya kita disibukkan dengan puluhan spam yang mampir ke email pribadi kita. Spam itu berisikan berbagai macam hal mulai dari penawaran produk, jasa, perkenalan perusahaan, hingga penipuan dengan berbagai kedoknya. Dan karena semakin hari semakin banyak, aktifitas spamming ini secara material semakin lama dirasa semakin mengganggu, terutama karena memakan bandwith perusahaan.

Spam dalam hal ini didefinisikan sebagai pengiriman email secara missal kepada penerima tanpa mendapatkan persetujuan dari penerima tersebut. Pengiriman email massal ini biasanya ditujukan sebagai salah satu aktifitas komunikasi pemasaran perusahaan terhadap orang-orang yang dianggap sebagai target marketnya.

Apakah ada perbedaan antara spam dan email marketing? Tentu saja ada. Spam adalah aktifitas yang termasuk dalam kategori pelanggaran privacy seseorang karena mengirimkan sesuatu tanpa seizin orang yang punya alamat. Sedangkan email marketing mengharamkan pengiriman informasi apapun tanpa seijin pemilik alamat email.

Perbedaan lainnya, dalam spam sebuah informasi ditujukan kepada semua orang tanpa pandang bulu. Sedangkan email marketing ditujukan kepada orang-orang yang menjadi target market perusahaan melalui pembangunan database yang terstruktur. Informasi yang dikirimkanpun biasanya melalui proses seleksi dan kebutuhan dari si penerima.

Aktifitas spamming sebenarnya merugikan berbagai pihak. Penerima email tentu saja paling dirugikan. Untuk perusahaan, komunikasi pemasaran melalui aktifitas spamming bukanlah pilihan yang baik. Ada beberapa alasan yang mendukung hal itu:

Pertama, dalam jangka pendek mungkin aktifitas spamming memang bisa menjangkau ratusan ribu bahkan jutaan orang secara cepat dan murah. Tetapi karena jangkauan ini dilakukan gebyah uyah, maka bisa jadi banyak penerima yang bukan merupakan target marketnya.

Kedua, aktifitas spamming dalam jangka panjang akan merusak reputasi perusahaan secara keseluruhan. Alih-alih mendapatkan awareness yang baik, yang ada bisa jadi kekecewaan dan kejengkelan orang terhadap perusahaan yang akan memberikan atribut buruk terhadap brand perusahaan.

Ketiga, karena termasuk pelanggaran terhadap privacy, perusahaan bisa dituntut dari sisi hukum dalam pelanggaran hak-hak pribadi. Kesadaran akan hal ini semakin lama semakin besar di Indonesia sehingga tuntutan masyarakat akan perlindungan privacy seseorang di Internet akan semakin mendapatkan perhatian.

Keempat, jika terbukti melakukan aktifitas spamming, dan dilaporkan kepada berbagai organisasi antispam di internet, domain name perusahaan akan dimasukkan sebagai black list yang akan menyebabkan kesulitan sendiri bagi perusahaan dalam mengirim email karena alamatnya diblok di berbagai penyelenggara jasa internet (Internet Service Provider, ISP) di seluruh dunia.

Kelima, aktifitas spamming menunjukkan bahwa perusahaan yang mengirimkannya tidak memiliki etiket dan tata hubungan yang baik dalam berinteraksi di internet. Dengan kecepatan penyebaran berita di internet, sekali kekecewaan ini muncul akan dengan cepat menyebarkan berita buruk itu di masyarakat.

Karena itu, sudah selayaknya setiap perusahaan memikirkan ulang jika mereka ingin melakukan komunikasi pemasaran melalui email marketing yang benar. Jangan sampai karena satu aktifitas spamming yang belum tentu efektif, mengakibatkan rusaknya reputasi perusahaan secara keseluruhan.

Email marketing harus dimulai dari pengumpulan database yang benar dari target marketnya. Pengumpulan database ini bisa dilakukan melalui data-data yang selama ini ada baik online maupun offline. Setelah data terkumpul, kirimkan email kepada mereka meminta ijin apakah mereka mau mendapatkan informasi yang berkaitan dengan kebutuhan mereka atau tidak.

Tentu saja, kita tidak bisa memberikan informasi dan penawaran yang tidak bermanfaat dan tidak punya nilai tambah di mata customer. Karena itu, penting sekali memetakan kebutuhan mereka agar email yang ktia kirimkan sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Pemetaan kebutuhan ini bisa dilakukan melalui survey ataupun pengisian profil yang dilakukan customer pada saat mendaftar.

Baru setelah kita dapatkan orang-orang yang mau menerima informasi, kita bisa memulai aktifitas email marketing ini. Artinya, pengiriman informasi dilakukan hanya kepada orang-orang yang memang mau menerima informasi, dan disesuaikan dengan kebutuhan mereka.

Di Indonesia sendiri, aktifitas spamming ini dirasa semakin lama semakin banyak. Saya sendiri rata-rata menerima beberapa email spam dari perusahaan Indonesia. Saya kategorikan spam karena saya tidak pernah mengijinkan mereka untuk mengirim email penawaran ke saya.

Kebanyakan perusahan itu menawarkan mulai dari produk-produk hingga jasa. Terakhir, saya dapat email dari sebuah perusahaan digital printing yang menawarkan diskon untuk cetak poster dan lain-lain. Saya lihat pengirimnya, bukan dari perusahaan tersebut, tetapi domainnya berasal dari obeqa.com. Saya tidak tahu ini perusahaan dari mana, tetapi rasanya cara-cara komunikasi pemasaran semacam ini tidak membesarkan industri promosi online secara keseluruhan, malah bisa menimbulkan antipati masyarakat.

24 Juni 2004, 03.10

Comments

Popular posts from this blog

Kontes Dangdut Indonesia (KDI)

Ketika saya menulis tentang Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan Indonesian Idol, kawan saya minta saya nulis tentang Kontes Dangdut Indonesia (KDI), sebuah acara yang mirip dengan AFI di Indosiar tetapi mengkhususkan diri pada lagu dangdut dan disiarkan oleh TPI. Saya sejujurnya belum pernah nonton KDI, karena itu, dalam beberapa hari kemarin hampir setiap jam setelah pulang kantor saya usahakan untuk selalu nonton TPI. Dan TPI memang secara gencar menayangkan iklan KDI yang sekarang sudah memasuki tahapan audisi di berbagai kota. Mirip dengan strategi Indosiar, hampir setiap ada spot iklan kosong, diisi dengan iklan KDI. Satu pertanyaan yang menggelitik saya adalah, bagaimana kans kesuksesan acara ini dalam merebut hati pemirsa? Ada dua indikasi kesuksesan acara ini: Pertama, tentu saja rating yang dikeluarkan AC NIELSEN. Dan Kedua, adalah SMS yang masuk bisa seberapa besar. Menariknya, acara-acara dangdut yang selama ini ditayangkan berbagai stasiun Televisi dalam hal rating...

Rumput Tetangga Yang Selalu Lebih Hijau

Minggu kemarin, Plasmedia mengadakan outbound untuk karyawannya. Bertempat di Sela Bintana, Sukabumi. Kegiatan outboundnya dilakukan dalam fasilitas milik Cakrawala outbound. Ada banyak sekali kegiatan dalam dan luar lapangan, yang intinya adalah team building, membangun interaktifitas dan kerjasama antar personil di berbagai departemen. Salah satu yang paling menarik saya adalah ketika tim-tim yang dibagi dalam beberapa kelompok oleh panitia diberikan berbagai barang-barang mulai dari sedotan, kayu ice cream, balon, gunting, kertas, karton, lem, dan lain-lain. Setiap kelompok diminta untuk membuat logo yang mencerminkan visi dan misi kelompok masing-masing. Dalam waktu satu jam, setiap kelompok mulai berpikir keras bagaimana membuat logo-logo tersebut secara baik. Ada kelompok yang membuat kafe, karena di situ ada meja makannya, ada kelompok yang membuat gambar kapal, gambar rumah, dan juga rumah beserta lingkungannya. Yang menang adalah kelompok yang membuat tiga buah tabung d...

Mengemas Ulang Sebuah Merek

Setengah tahun yang lalu saya berkunjung ke kantor Jawa Pos di Jakarta di Graha Pena di daerah Kebayoran. Saya berbincang dengan salah satu staf redaksi Indo Pos yang merupakan salah satu grup koran dari Jawa Pos. Gedung itu juga menjadi kantor bagi harian Rakyat Merdeka dan Lampur merah yang juga masih satu grup. Kita berbincang panjang lebar, terutama mengenai perjalanan Indo Pos dan perkembangannya selama hadir di Jakarta. Ceritanya sudah lama memang grup Jawa Pos menginginkan untuk bisa merambah Jakarta. Karena itu, distribusi Jawa Pos untuk Jakarta memang sudah digencarkan sejak bertahun-tahun yang lalu, dan diterbitkanlah Jasa Pos edisi Jakarta. Namun hasilnya memang tidak begitu memuaskan. Walaupun distribusinya cukup merata, tetapi pertumbuhannya tidak terlalu pesat. Akhirnya, setelah melalui berbagai penelitian, ditemukan bahwa salah satu penyebabnya adalah karena nama Jawa Pos nampaknya tidak terlalu “berkenan” di hati orang Jakarta. Kesannya sebagai Koran daerah menye...