Skip to main content

Menikmati Persaingan

Menikmati Persaingan?*

Andai tidak ada pesaing yang ikut tender, tentu kita bisa menang. Andai harga kita lebih murah dari pesaing, andai kualitas kita lebih baik dari pesaing, kok bisa ya, konsumen memilih pesaing kita..... dan seterusnya jika kita berandai-andai tentang sebuah persaingan. Pertanyaannya, bisakah kita hidup tanpa persaingan? Atau, kita lebih suka hidup dengan persaingan atau tanpa persaingan?

Apa sih gunanya persaingan buat kita atau buat perusahaan? Ada beberapa manfaat persaingan yang bisa kita ambil. Pertama, persaingan akan membuat kita semakin kuat. Dengan adanya pesaing kita jadi semakin tahu kelemahan dan kelebihan kita, dan bagaimana mempertahankannya.

Kedua, persaingan akan membuat pasar semakin besar. Kalau kita sendirian mendidik pasar, kita akan kehabisan resource sendiri dan pasar yang kita raih berkembang secara pelan. Adanya pesaing memungkinkan sama-sama mendidik pasar sehingga kuenya menjadi semakin besar untuk diperebutkan.

Ketiga, persaingan membuat kita selalu waspada dan menjadi pendorong yang kuat untuk melakukan inovasi. Tanpa persaingan, kita akan puas dengan apa yang kita miliki tanpa melakukan pengukuran dan perbandingan dengan yang lain. Pesaing adalah pembanding yang baik buat kita.

Masalahnya kemudian, bagaimana kita menikmati persaingan dengan enak? Kadangkala, persaingan membuat kita pening dan sakit kepala, apalagi kalau strategi yang kita susun ternyata dapat dipatahkan oleh pesaing. Ditambah lagi, produk ataupun jasa yang kita tawarkan semakin lama semakin mengalami kemunduran.

Menikmati persaingan adalah seni mengelola pikiran dan hati. Yang paling penting adalah mempersiapkan diri sejak awal bahwa di dunia ini persaingan adalah sesuatu yang alami dan akan selalu ada. Kedua, hadapi persaingan dengan tenang. Persaingan memang kadang menaikkan adrenalin dan tingkat emosi. Tetapi ketenangan menghadapi persaingan sangat diperlukan agar kita tidak menjadi beban yang terlalu berat. Beban mental yang berat seringkali menjadi sebab seseorang ”kalah sebelum bertanding”. Ketiga, kita harus punya kepercayaan diri yang tinggi. Sering terjadi kita minder dengan kemampuan yang dimiliki orang lain, padahal belum tentu orang lain lebih baik dari kita. Terakhir, bersiaplah untuk kalah ataupun menang. Toh persaingan dan perjalanan masih panjang. Ketika kita kalah hari ini, masih ada hari esok yang bisa kita menangkan. Jadi, mengapa takut pada persaingan?...

*dedicated to my friend Elny

Comments

Popular posts from this blog

Kontes Dangdut Indonesia (KDI)

Ketika saya menulis tentang Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan Indonesian Idol, kawan saya minta saya nulis tentang Kontes Dangdut Indonesia (KDI), sebuah acara yang mirip dengan AFI di Indosiar tetapi mengkhususkan diri pada lagu dangdut dan disiarkan oleh TPI. Saya sejujurnya belum pernah nonton KDI, karena itu, dalam beberapa hari kemarin hampir setiap jam setelah pulang kantor saya usahakan untuk selalu nonton TPI. Dan TPI memang secara gencar menayangkan iklan KDI yang sekarang sudah memasuki tahapan audisi di berbagai kota. Mirip dengan strategi Indosiar, hampir setiap ada spot iklan kosong, diisi dengan iklan KDI. Satu pertanyaan yang menggelitik saya adalah, bagaimana kans kesuksesan acara ini dalam merebut hati pemirsa? Ada dua indikasi kesuksesan acara ini: Pertama, tentu saja rating yang dikeluarkan AC NIELSEN. Dan Kedua, adalah SMS yang masuk bisa seberapa besar. Menariknya, acara-acara dangdut yang selama ini ditayangkan berbagai stasiun Televisi dalam hal rating...

Rumput Tetangga Yang Selalu Lebih Hijau

Minggu kemarin, Plasmedia mengadakan outbound untuk karyawannya. Bertempat di Sela Bintana, Sukabumi. Kegiatan outboundnya dilakukan dalam fasilitas milik Cakrawala outbound. Ada banyak sekali kegiatan dalam dan luar lapangan, yang intinya adalah team building, membangun interaktifitas dan kerjasama antar personil di berbagai departemen. Salah satu yang paling menarik saya adalah ketika tim-tim yang dibagi dalam beberapa kelompok oleh panitia diberikan berbagai barang-barang mulai dari sedotan, kayu ice cream, balon, gunting, kertas, karton, lem, dan lain-lain. Setiap kelompok diminta untuk membuat logo yang mencerminkan visi dan misi kelompok masing-masing. Dalam waktu satu jam, setiap kelompok mulai berpikir keras bagaimana membuat logo-logo tersebut secara baik. Ada kelompok yang membuat kafe, karena di situ ada meja makannya, ada kelompok yang membuat gambar kapal, gambar rumah, dan juga rumah beserta lingkungannya. Yang menang adalah kelompok yang membuat tiga buah tabung d...

Mengemas Ulang Sebuah Merek

Setengah tahun yang lalu saya berkunjung ke kantor Jawa Pos di Jakarta di Graha Pena di daerah Kebayoran. Saya berbincang dengan salah satu staf redaksi Indo Pos yang merupakan salah satu grup koran dari Jawa Pos. Gedung itu juga menjadi kantor bagi harian Rakyat Merdeka dan Lampur merah yang juga masih satu grup. Kita berbincang panjang lebar, terutama mengenai perjalanan Indo Pos dan perkembangannya selama hadir di Jakarta. Ceritanya sudah lama memang grup Jawa Pos menginginkan untuk bisa merambah Jakarta. Karena itu, distribusi Jawa Pos untuk Jakarta memang sudah digencarkan sejak bertahun-tahun yang lalu, dan diterbitkanlah Jasa Pos edisi Jakarta. Namun hasilnya memang tidak begitu memuaskan. Walaupun distribusinya cukup merata, tetapi pertumbuhannya tidak terlalu pesat. Akhirnya, setelah melalui berbagai penelitian, ditemukan bahwa salah satu penyebabnya adalah karena nama Jawa Pos nampaknya tidak terlalu “berkenan” di hati orang Jakarta. Kesannya sebagai Koran daerah menye...